Keisha pulang dengan wajah kusut, rambut kepangnya semrawut dan bajunya kotor. Nenek yang melihatnya mengerutkan dahi.
“Kenapa, Kei?”, tanyanya lembut. Mata Keisha yang berkaca menyembunyikan sesuatu.
“Aku hanya jatuh, Nek. Dikejar anjing dan kalkun”, kata Keisha.
Sebagai anak yatim piatu sejak kecil, Keisha memang hidup sederhana bersama nenek dan satu-satunya kakak laki-laki. Beruntunglah ayah dan ibu Keisha meninggalkan rumah yang cukup besar sehingga kamarnya bisa mereka sewakan kepada pekerja pendatang di kota mereka, dari cara itu mereka mendapatkan uang untuk biaya hidup dan sekolah Keisha dan kakaknya. Sesekali paman, adik ibu, memberikan uang jajan sekedarnya.
“Kamu masih lewat kampung itu lagi?”, tanya nenek. Keisha menganggukkan kepala. Nenek tahu Keisha sengaja kewat jalan kampung itu agar tak diejek dan diganggu teman-teman perempuan sekelasnya yang kebetulan bertetangga. Biasanya Keisha pulang bersama-sama mereka dan pergi bermain sepulang sekolah, namun sejak beberapa minggu ini, nenek memperhatikan Keisha selalu pulang sendiri.
Pernah Keisha pulang ke rumah dengan bentol-bentol di sekujur badan. Salah seorang dari mereka menaruh ulat bulu di punggungnya, entah bagaimana caranya hanya Keisha yang merasakan efeknya sementara mereka tidak. Gatal dan panas membuatnya tak berhenti menggaruk, sementara mereka tertawa terbahak-bahak.
Atau mereka memasukkan kecoa di bajunya, membuatnya menjerit-jerit dan berlari ke tempat tersembunyi untuk membuka pakaian dan membuang kecoa itu dari badannya. Keisha menangis dan gemetar ketakutan. Kejahatan kecil yang tak pernah terbayangkan bisa dilakukan oleh anak kelas 6 SD. Sejak saat itu Keisha selalu berusaha menjauhi mereka, termasuk berangkat dan pulang sekolah dengan jalan memutar. Masalahnya, mereka satu kelompok belajar dengannya sehingga harus bertemu saat ada pekerjaan sekolah, untungnya tidak terlalu sering dikerjakan di rumah dan tugas-tugas itu kebanyakan dikerjakan di sekolah.
Kadang-kadang, Keisha lebih suka mencari jalan pintas melewati makam atau kampung tempat anjing dan kalkun itu selalu bernafsu mengejarnya.
“Kenapa tidak lewat jalan biasanya saja?”, Tanya nenek. Keisha hanya terdiam.
Aku lebih suka dikejar kalkun atau anjing. Aku tahu mereka sebenarnya tak bermaksud menyakitiku.
Pemilik anjing itu akan berteriak memanggil nama anjingnya dan biasanya menurut menjauhi Keisha. Laki-laki tua itu meminta maaf kepada Keisha. Sementara pemilik kalkun hanya tertawa-tawa saja melihat kalkun miliknya mengejar Keisha yang lari terbirit-birit menghindari patukan paruhnya.
Keisha lebih suka melewati jalan kampung itu daripada harus bertemu dengan gadis-gadis kecil sebayanya yang akan menjambak rambutnya, memaksanya datang ke rumah hanya untuk mengerjakan pekerjaan rumah mereka, atau disuruh-suruh seperti pembantu bahkan menyakitinya dengan cara yang tak pernah terbayangkan oleh Keisha. Yang lebih memedihkan hati, kata mereka Keisha layak mendapatkan perlakuan itu, Keisha tak layak memiliki ayah dan ibu.
Betapa menyedihkan. Ayah ibunya meninggal bukan karena kesalahannya. Pernah Keisha mendatangi makam ayah dan ibunya memohon maaf bila ia telah berbuat salah. Ingatan tentang ayah ibunya hanya sama-samar adanya, karena ayahnya meninggal ketika ia berumur 4 tahun dan setahun kemudian ibunya menyusul.
Kadang-kadang bila tak ingin membaca di atas genteng, dia membaca di makam kedua orang tuanya, seolah-olah mereka masih hidup di sampingnya.
Siang itu setelah Keisha mengganti pakaian sekolah, makan dan merapikan rambutnya,
“Nenek punya sesuatu untukmu”, tiba-tiba nenek telah duduk di bangku bambu sebelahnya sambil menyerahkan buku tulis berwarna merah.
“Apa ini, nek?”, Tanya Keisha.
“Buku harian almarhum ibumu, nenek menemukannya waktu membersihkan gudang tadi. Nenek sering melihat ibumu menulis sesuatu di situ. Sayang sekali nenek tidak pernah belajar membaca dan menulis, jadi tak tahu apa yang ibumu tulis. Sepertinya menarik”.
Keisha membawa buku itu naik ke atas genteng setelah memanjat pohon belimbing yang sebagian dahannya menjorok ke atap genteng. Di sana adalah tempat yang nyaman untuknya, seperti rumah kedua, membaca buku-buku yang ia pinjam dari perpustakaan sekolah atau persewaan buku dekat rumahnya.
Keisha jarang pergi bermain akhir-akhir ini. Besok adalah hari pembagian kelompok belajar yang baru, Keisha berharap dia bisa segera lepas dari kelompok lamanya. Teman-teman perempuan yang kerap menindasnya.
Lembar demi lembar Keisha buka, walau tak sepenuhnya paham dengan apa yang ibu tulis, Keisha merasa bahagia seolah – olah ibunya masih hidup dan bercerita kepadanya.
Keisha jadi sedikit mengerti perjuangan ibunya sepeninggal ayahnya. Demi menyelamatkan ekonomi keluarga, ibu yang tak punya pekerjaan rupanya menikah lagi. Samar-samar Keisha mengingat sosok laki-laki asing yang pernah tinggal di rumahnya. Atau ketika laki-laki itu mengajak ibu, Keisha dan kakaknya berlibur ke sebuah desa dengan sungai jernih di depan rumah.
Sejak saat itu Keisha memutuskan untuk menulis cerita-cerita yang dialaminya sepanjang hari. Dengan menabung uang saku yang diberikan nenek kepadanya, beberapa hari kemudian dia dapat membeli sebuah buku baru berwarna merah jambu dengan sampul bergambar bunga dan kupu-kupu.
Hari ini akan kumulai cerita tentangku sendiri..gumamnya.
Siang itu Keisha sedang duduk di atas genteng, hanya beberapa meter darinya seekor burung pipit kecil tengah menikmati remah roti yang sengaja ia taburkan.
Tuhan adalah temanku kata Keisha. Dia bisa menjelma apa saja, bahkan pelangi yang lengkungnya adalah senyum atau burung pipit mungil yang sedang menemaniku membaca diatas pohon belimbing setiap siang. Teman sejati dalam hening, siang itu.
Aku akan menjadi lebih kuat dari anak-anak perempuan itu. Aku memang tak akan pernah membalas perbuatan mereka, tapi aku belajar untuk menjadi kuat dan tegar. Kalau aku membalas, aku akan menjadi sama jahatnya seperti mereka. Aku ingin mereka berhenti menyakitiku, karena itu aku harus kuat.
Keesokan harinya, Keisha berlari lebih kencang ketika anak-anak perempuan itu mengejarnya sambil membawa sekantung kecoa. Karena terlalu memperhatikan Keisha, Sheila, anak perempuan yang membawa sekantung kecoa itu tak melihat ada batu di depannya. Akibatnya dia tersandung dan jatuh. Malangnya, sekantung kecoa itu pun terlepas dan berkeliaran di sekitar tempat jatuh Sheila. Suara jerit gadis kecil malang itu terdengar, membuat Keisha berhenti berlari dan menoleh ke belakang. Seekor kecoa hinggap di rambut Sheila, yang lain beterbangan di sekitar Mey, dan Andin yang berada di belakang Sheila. Mereka bermaksud menolong Sheila ketika kecoa itu berhamburan keluar dari kantung plastik.
Detik itu juga Keisha teringat kata-kata neneknya, “Tuhan Tahu tapi menunggu”. Rupanya inilah saatnya berbalik. Mereka yang telah menyakitinya telah menerima pembalasan dari Nya.
Walau mereka masih belum berhenti juga berusaha menyakitinya, tapi Keisha kini lebih kuat dan berani melakukan perlawanan.
Citizen Journalism, Travelling Notes, Inspiring Stories, Beauty Tips
Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Friday, April 21, 2017
Wednesday, February 26, 2014
Cerpen ; Perempuan kedua
Nenekku tak bisa membaca, juga
menulis. Tapi dia mengeja hidupnya sebaris demi sebaris. Menghayati setiap
kesulitan hidup sebagai pelajaran untuk kemudian diajarkan kembali kepada kami,
anak cucunya.
“Sejarah akan selalu terulang, anak-anak,..karena
itu sebisa mungkin belajarlah dari pengalaman orang lain”. Kebijakan sederhana
dari seorang perempuan buta huruf namun sangat bersungguh-sungguh dalam
memaknai hidup.
Menikmati sekecil apapun
kegembiraan sebagai pelipur lara dikala duka. Bahwa syukur adalah bentuk
kebahagiaan yang tak bisa dibeli. Karena syukur adalah masalah hati. Ketika
hatimu bisa menerima keadaanmu, saat itulah kamu sedang berbahagia.
Nenekku sendirian menghidupi 6 orang anak,
karena suami yang pergi meninggalkannya demi perempuan lain.
“Aku mungkin bisa memaafkan,
namun tidak melupakan”, kata nenek.
Kesusahan hidup tak membuatnya menyerah.
Semasa gadis dia hidup di jaman penjajahan Jepang. Nenekku tahu kapan harus
bersembunyi dari jarahan tentara Jepang yang tak hanya menjarah harta benda
namun juga kehormatan. Satu demi satu temannya dijadikan jugun ianfu yang
laki-laki dirampas untuk dijadikan kuli tanpa dibayar. Hanya dia dan beberapa
teman perempuan yang selamat hingga masa penjajahan Jepang berakhir. Hingga akhirnya
Jepang bertekuk lutut setelah bom atom yang dijatuhkan tentara Amerika
menghancurkan dua kota besar, Hiroshima dan Nagasaki.
Nenekku
menikah dengan seorang laki-laki buruh petani, dan memiliki 6 orang anak. Ibuku
adalah satu-satunya anak perempuan. Untuk membantu menambah penghasilan suami,
nenekku bekerja sebagai buruh pemipil jagung. Sen demi sen dikumpulkannya,
sebagian ditabung agar bila ada keperluan mendadak nenek tak perlu menunggu
penghasilan dari suami. Sikap gemi sethithi nya ternyata ada gunanya. Ketika
suatu saat dia memergoki sang suami memiliki perempuan lain dan
meninggalkannya. Penghasilan mungkin berkurang karena kakek tak lagi memberikan
uangnya untuk nenek. Namun Tuhan selalu bersama kami. Selalu ada saja pekerjaan
yang membutuhkan tenaga nenek hingga dia memiliki cukup uang untuk menghidupi
ke enam orang anaknya. Meski mereka hanya berbekal pendidikan sekolah rakyat,
namun cukup berhasil menjalani hidup. Ibuku menikah muda dengan seorang pegawai
walau hanya berstatus sebagai istri kedua. Meski setelah itu istri pertama dari
ayah memilih untuk bercerai.
Dengan bantuan suaminya, paman-pamanku
beroleh pekerjaan di kantor kabupaten. Salah seorang pamanku memilih merantau
ke Jakarta.
Ibuku
meninggal setelah setahun meninggalnya ayah dan aku diasuh oleh nenek bersama
kakakku.
Nenek yang tak bisa membaca dan menulis
namun memahami aku. Ketika aku bersedih karena teman-teman menjauhiku, nenek
selalu berupaya agar aku tetap tegar. Dia mengajariku tentang hidup dengan
kisah-kisahnya di masa muda dulu.
“Terima
lah nasibmu sebagai yatim piatu, namun jangan menyerah karena hinaan orang.
Mereka tak tahu betapa istimewanya kamu”. Demikian nenekku selalu menghiburku.
Disuruhnya aku membaca banyak buku agar aku bisa melupakan kegalauan hatiku.
Saat itulah aku mulai menulis buku harianku karena tak tega melihat nenek ikut
bersedih dengan cerita-ceritaku.
“Jadilah
perempuan yang tegar, kuat, tak mudah menyerah namun tetap lembut. Seorang
perempuan harus mandiri meski punya suami kaya dan baik hati. Karena kita tak
pernah tahu kapan cinta bisa terbagi. Kalaupun kamu rela berbagi dengan
perempuan lain, kamu tak akan menyusahkan banyak orang kalau ternyata suatu
hari nanti kamu memilih untuk sendiri”.
Kakakku
memilih untuk bekerja setelah lulus STM, Nenek menyuruhku melanjutkan hingga
kuliah meski untuk itu dia harus berjuang membesarkanku, ayah mewariskan rumah
yang agak besar hingga bisa kami sekat-sekat menjadi kamar kos yang bisa kami
sewakan. Dengan uang sewa itulah, aku, kakak dan nenek bertahan hidup. Sebagian
dibantu oleh kakak-kakak ibu yang telah bekerja dan berkeluarga. Beruntung
semasa kuliah aku mendapatkan beasiswa dan mulai kerja sambilan sepulang
kuliah.
Seperti
yang pernah nenek katakan, bahwa hidup yang keras membuat kita tegar. Bila kita
keras pada kehidupan maka kehidupan akan melunak demikian pula sebaliknya.
Bila banyak teman di masa muda
berleha-leha, belajar dan bersenang-senang, aku rela mengetik hingga dini hari,
bekerja di sebuah rental komputer dan warnet demi melanjutkan kuliah. Aku
bahkan tak ada waktu terlalu dekat dengan teman laki-laki. Mereka hanya kukenal
sepintas lalu di kampus, di tempat rental karena mereka puas dengan hasil
kerjaku atau di majlis taklim tempatku menimba ilmu agama di sela jadwal padat
kuliah dan bekerja. Kalaupun ada satu yang istimewa dia hanya kuhubungi via
surat, seorang sahabat pena yang kelak ternyata menjadi pasangan hidupku
selamanya. Padanya kuceritakan segala kisahku dan betapa aku merasa tersanjung
karena dia menyebutku perempuan tangguh.
Kini
nenek telah tiada. Namun semangat hidupnya selalu ku kenang. Ajarannya agar aku
mandiri dan tak menyusahkan orang lain selalu kupegang teguh. Sesulit apapun
tak boleh menghentikan aku berjuang meraih apa yang kuimpikan.
Selama
hidup yang kuceritakan dalam buku harianku, 2 perempuan yang menginspirasi aku,
nenek dan ibuku. Keduanya adalah perempuan tangguh yang tak serta merta menjadi
cengeng ketika cintanya diduakan. Poligami adalah pilihan yang tak bisa mereka
elakkan. Namun meratapi dan menyerah bukanlah pilihan. Ada anak-anak yang
membutuhkannya untuk menjadi tegar, kuat dan mandiri. Nenek, walau tak bisa
melupakan dan memaafkan kakek, tetap menerima kedatangannya ketika memohon maaf
di usia tuanya dan tak lama kemudian meninggal dunia di rumah istri keduanya.
Ibuku terpaksa menerima pinangan pegawai yang telah beristri dan memiliki anak,
demi membantu adik-adiknya agar bisa hidup layak dan bersekolah. Selalu ada
yang dikorbankan demi kebahagiaan orang yang kita cintai, kata ibuku. Hidup ini
janganlah terlalu egois dengan hanya memikirkan kebahagiaan diri sendiri. Ini
bukan salah ibu yang kemudian membuat istri pertama ayah meminta cerai. Ayahmu
yang tak memperkirakan perasaan istri pertama, walau awalnya bisa menerima ibu
namun sebagai perempuan dan merasa menjadi yang pertama tak pernah bisa menahan
gejolak cemburu karena diduakan. Padahal seluruh gaji ayah untuk istri pertama,
ibu mendapatkan penghasilan dari peternakan ayah yang sengaja diberikan ayah
kepada ibu dan kakak-kakaknya untuk di kelola.
Ini
adalah pelajaran hidup yang sangat berharga untukku. Sebagai perempuan dan kini
aku telah berkeluarga. Segala hal yang baik dan buruk bisa terjadi. Dan dalam
hidup ini selalu ada pilihan-pilihan. Terima kasih untuk nenek dan ibu, guruku
yang telah mengajariku tentang kehidupan lewat kisah-kisahnya yang kutulis
dalam buku harianku.
Friday, July 12, 2013
Cerpen ; First Love ( will be ) never die
Saya tak pernah bisa memiliki dirinya yang
menjadi cinta pertama saya. Namun bila saya memaksakan diri mendapatkan seorang
pengganti yang sama persis dengan dirinya, saya yakin saya tak akan pernah
bahagia dengannya, karena saya tidak mencintainya dengan sesungguhnya, itu
karena saya mencintai masa lalu saya dan cinta pertama saya. Maka kini yang
saya lakukan adalah menjaga semua kenangan manis pahit tentang cinta pertama
saya, tentang seseorang dan cinta yang tak akan pernah saya miliki selamanya.
Seorang sahabat lama masih kerap mengunjungi saya via email. Dilihat dari foto terakhirnya penampilannya tak jauh berbeda dengan jaman kuliah dulu, tetap kasual masih tetap semanis dulu meski kini kelihatan lebih matang. Masih single meski saya tahu dia sukses berat dengan pekerjaan dan kehidupan sosialnya, namun tidak dengan kehidupan pribadi dan cintanya. Sayalah satu-satunya sahabat yang mengetahui apa yang terjadi dengannya, seorang perempuan yang sangat terobsesi dengan laki – laki pertama yang dia cintai, berbeda dengan saya yang sudah lupa pria mana yang pertama kali saya cintai atau kapan tepatnya pertama kali saya jatuh cinta. Terlalu banyak yang datang dan pergi dalam kehidupan saya, banyak kehilangan sekaligus menemukan ( yang ini lebih puitis daripada umgkapan 'mati satu tumbuh seribu' hehehe ).
Dengan kemampuan bicara multi lingual, Jepang, Inggris dan tentu saja bahasa Indonesia, dia berhasil mendapatkan pekerjaan yang sangat bagus, seorang pengajar di sebuah Universitas di negeri seberang, sekaligus pekerjaan sampingan menjadi penerjemah sesekali, mestinya dia telah menemukan banyak pria yang baik dan berprospek cerah, namun dia tetap memilih hidup melajang.
“Let me die in virgin”, katanya ( wah mubazir amat )
Saya masih ingat percakapan bertahun – tahun yang lalu, ketika kami masih kuliah, tinggal bersama di kamar kos yang sempit, malam minggu berstatus jomblo-er sambil menikmati kopi rasa mocha bikinan sendiri yang seringkali agak pahit karena kebanyakan kopi, ngobrol tentang banyak hal termasuk tentang cinta pertama kami. Suatu ketika dia bertanya pada saya siapa dan kapan first love saya.
Saya nyengir dan balik bertanya,” apa sih cinta pertama itu karena terus terang saya ndak jelas,ndak ingat kapan tepatnya.” Waktu masih SD dulu saya memang sempat naksir temen cowok yang ganteng dan hobi sekali menulis puisi, tapi itu kan cinta monyet, apa itu bisa disebut cinta pertama ? Lalu saat SMA saya pernah naksir seorang pria yang beda usia 8 tahun dari saya, namun kandas alias tidak jadian karena si cowok melarikan diri setelah saya nekat menyatakan perasaan saya padanya, mungkin dipikirnya saya alien. Lalu saat awal masuk kuliah saya jatuh cinta berat dengan ketua senat fakultas yang manis dan Jogja banget hehehe…. Lha wong dia asal Sleman, namun ndak juga jadian karena ternyata dia sudah bertunangan dan Cuma menganggap saya mahasiswa baru yang layak diplonco hahaha…..
“Jadi yang mana dong cinta pertama saya?”.
Semuanya berarti buat saya meski tak pernah bisa saya miliki diri mereka secara fisik, namun karena merekalah saya banyak belajar tentang mencintai tanpa harus memiliki. Sahabat saya tadi tak menjawab pertanyaan saya, malah bercerita tentang laki – laki pertama sekaligus satu – satunya pria yang ada di hatinya hingga kini yang sayangnya tak pernah bisa sahabat saya miliki. Laki – laki itu adalah teman semasa kecilnya, yang sangat ia cintai hingga dewasa, hanya sayangnya karena mereka bersahabat sedari kecil, si cowok tidak ngeh kalo ditaksir berat oleh sahabat saya, si laki – laki hanya menganggap perhatian dan kasih sayang sahabat tadi sebagai sebuah persahabatan abadi, hingga akhirnya mereka beranjak dewasa dan akhirnya si cowok menemukan pasangan sementara sahabat saya masih sendiri dan tentu saja patah hati.
Cinta pertama yang tak akan pernah mati, begitu kisahnya, hingga setiap pria yang datang mendekatinya selalu dia tolak dengan halus, dia tak akan pernah bisa mencintai orang lain lagi katanya.
Malam ini saya telah menghabiskan dua mug kopi rasa mocha instan ( bukan bikinan sendiri, karena memang beneran rasa mocha ) sambil membaca kembali email dari sahabat. Cintanya rupanya tak pernah mengenal kata expired,masih juga cerita tentang laki – laki yang sama yang tak pernah ia miliki, padahal di sana, di negara tempatnya tinggal, berjubel laki – laki dari berbagai bangsa yang bersedia menemaninya hingga akhir hayat.
Kali ini dia bercerita, pernah suatu ketika dia bertemu dengan seseorang yang mirip dengan cowok pertamanya dan kebetulan mereka saling mencintai, namun sahabat saya akhirnya memutuskan berpisah dengan laki – laki itu.
“Aku tak benar-benar mencintainya, aku hanya mencintai masa laluku yang kebetulan ada padanya, oh, seandainya aku tak ( pernah ) jatuh cinta pertama kali, barangkali aku sudah menemukan pendamping hidup yang bisa kucintai apa adanya, tak perlu ia mirip dengan siapapun”.
Tak adil bila saya memintanya untuk melupakan kekasih pertamanya, namun saya juga tak setuju bila hidupnya terbelenggu masa lalu.
“Enak ya jadi kamu,” tulisnya suatu hari tentang saya. Karena saya tak pernah ambil pusing dengan cowok pertama yang saya cintai padahal saya pernah sakit berat gara – gara putus cinta, tapi toh akhirnya saya memutuskan untuk memilih menikah dengan laki – laki yang melamar saya, meski dia tak sama dengan laki – laki pertama yang saya cintai.
“Life must go on, pren”, kataku
Saya tahu hidupnya memang telah berjalan sejak dulu, tapi sahabat saya bagai jalan di tempat dengan kenangannya.
First Love jadinya never die buat dia, tapi bagi saya cinta pertama adalah sebuah pembelajaran dimana saya untuk pertama kali jatuh hati dan disakiti namun masih tetap berbahagia karena pengalaman menyakitkan itu membuat saya mengerti, mencintai tak perlu menjadi belenggu untuk menjadi seorang yang lebih baik bagi orang lain.
Sunday, July 7, 2013
Cerpen ; Cinta Sunyi
Aku senang sekali mendengarkan suara hujan
di malam hari ketika aku sendiri dan suasana hening hanya suara air menimpa
atap dan jalanan di depan rumah. Membaui aroma tanah dan rerumputan basah.
Hiburanku satu-satunya hanya laptopku dan musik dari MP3 player. Kadang-kadang
aku membaca buku hingga larut malam ketika aku tak bisa tidur. Sementara untuk
acara kencan di malam minggu aku tak punya. Sesekali beberapa teman laki-laki
mengajakku pergi, tapi jarang kuterima.
Seperti sabtu malam ini, hujan kembali turun. Aku terjaga di depan mejaku, kubuka jendela lebar-lebar, sambil menikmati secangkir kopi panas, aku melihat ke bawah. Sepasang remaja berusaha berteduh dari hujan dengan sebuah jaket milik sang cowok. Aku tersenyum.
Mereka mungkin bisa jadi telah mengalami berulang kali patah hati sebelum akhirnya menemukan cinta sejatinya.
Aku jadi teringat Eliza, sahabatku semasa sekolah dulu. Eliza cantik, bahkan nyaris sempurna dan juga pintar. Kulitnya putih bersih, rambutnya coklat kemerahan seperti cewek bule, matanya ? beautiful brown eyes yang bisa bikin para lelaki tergila-gila padanya. Menurutku dia mirip artis cilik Shirley Temple bahkan dalam usianya yang sudah bukan remaja lagi. Iseng-iseng aku dan Eliza menelusuri silsilah keluarganya. Pantes bau bule, buyutnya keturunan kompeni eh Belanda ding. Kadang-kadang bila sedang berjalan di sampingnya aku merasa jadi si itik buruk rupa. Tapi kata teman-temanku yang lain, aku lebih mirip bodyguard daripada itik.
Seharusnya dengan wajah cantik, hati yang baik dan otak yang encer Eliza bisa punya pacar, hanya anehnya hingga kini dia masih belum punya pacar tetap, hanya Tuhan Yang Maha Tahu kenapa tak satupun dari semua laki-laki yang pernah dekat dengannya menjadi pacarnya. Apa yang salah ? Entahlah.
Cinta memang kadang berlaku di luar logika. Cinta memang bukan matematika, satu ditambah satu sama dengan dua. Apa yang mungkin terjadi menurut nalar, bisa jadi mustahil kalau sudah berhubungan dengan cinta. Bahkan Lia yang sebenernya nggak cantik-cantik amat, nggak pinter banget eh malah punya suami dokter.
Kadang kupikir barangkali Eliza yang terlalu pemilih, terlalu idealis bahkan pernah kukatakan padanya seharusnya Eliza mencintai orangnya bukan deskripsi. Simak saja apa yang diinginkannya dalam diri laki-laki pilihannya, baik, ganteng, putih, tinggi, pinter dan berkacamata. Barangkali dia lebih cocok dengan mister Jambul, si Jepang gila rekan kerjaku yang lebih suka kupanggil Jambul daripada nama aslinya karena rambutnya berjambul seperti ayam jago. Aku tak menyalahkan Eliza, semua orang berhak memiliki seseorang yang diidamkan, bahkan aku pun punya penggambaran laki-laki yang aku inginkan jadi pasangan hidupku kelak.
Tapi yang aku kagumi dari Eliza, meski sering berganti pasangan dan sesekali putus nyambung dengan pacar-pacarnya, Eliza tetap ceria. Kadang-kadang memang aku nggak ngerti dengan kegilaan temenku cewek satu ini. Hari ini putus cinta, besok sudah ketawa-ketawa lagi, hari berikutnya sudah jalan dengan yang lain lagi, seolah tidak ada beban hidup yang berat buatnya. Hidupnya itu bagai air yang mengalir, jalanin aja apa adanya, gitu prinsipnya.
Cinta yang bertepuk sebelah tangan memang menyakitkan. Namun lebih menyakitkan lagi bila saling mencintai namun tak bisa bersama.
Sesekali Eliza bersedih hati ketika dia bener-bener cinta mati dengan sang lelaki, namun ternyata bertepuk sebelah tangan, si lelaki Cuma menganggapnya teman ( tapi kok mereka mesra ya..), atau ketika mereka saling menyayangi, ada saja hal yang membuat mereka terpaksa harus berpisah.
Aku tak pernah keberatan menjadi teman curhatnya. Ada persamaan antara aku dan Eliza, sama-sama tak punya pacar, jadi malam minggu kami selalu bersama. Kadang-kadang aku ke rumahnya dan kita ngobrol berjam-jam, atau Eliza datang ke tempatku. Eliza pernah bertanya padaku kenapa aku bisa sesantai ini meski tak ada pacar.
“Tidakkah kamu ingin disayang dan diperhatikan seseorang ?”, tanya Eliza padaku suatu saat.
“Pacar itu penting ya ?”, aku malah balik bertanya yang kemudian malah menuai timpukan bantal, buku dan bolpen dari Eliza.
Sesekali aku memang ingin diperhatikan dan disayang seseorang, misalnya salah satu dari teman laki-laki yang selama ini dekat denganku. Tapi aku mungkin memang orang aneh seperti yang dikatakan Eliza padaku karena aku tak pernah menuntut untuk dijadikan pacar atau menjadikan mereka pacar. Mencintai dan dicintai itu kan nggak harus saling memiliki dan dimiliki, argumenku ketika Eliza menanyakan alasanku men-jomblo semasa sekolah dulu. Lagi pula aku dulu terlalu berambisi menjadi seorang penulis, jadi waktuku lebih banyak kupakai untuk banyak membaca buku, belajar menulis pada guru sastra Indonesia, jalan-jalan atau mengurusi mading sekolah. Lagi pula sebagian besar laki-laki yang dekat denganku lebih sering kujadikan sumber inspirasi puisi atau cerpenku. Mereka adalah orang-orang yang unik dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
“Sialan luh”, kata Eliza setelah mendengar alasanku dekat dengan mereka.
“Lho, emang salah ? Lha wong para cowok pelukis biasa dekat obyek lukisnya supaya lukisan mereka ‘hidup’, mana kadang-kadang disuruh bugil lagi, aku kan nggak sampe segitunya nyuruh mereka bugil”. Eliza tertawa ngakak lalu menjitak kepalaku.
Kukira, kalau seluruh kisah cinta Eliza dikumpulkan bisa jadi sebuah buku atau novel.
Kisah cinta pertama Eliza. Kami masih terlalu muda saat itu, awal masa remaja yang indah. Hingga kini aku masih saja selalu penasaran kenapa pada masa itu ada sebutan cinta monyet bukan ayam atau beruang ( emang yang bisa bercinta Cuma monyet doang ? )
Laki-laki itu bernama Dewa, laki-laki kelahiran pulau Dewata Bali, manis, pintar, baik, berkacamata ( walau tak berkulit putih ), apalagi dia punya suara merdu yang menjadikannya juara pertama lomba menyanyi di sekolah. Hampir semua teman perempuan menggilainya, terutama Eliza, kecuali aku yang saat itu sedang dekat dengan Joe, si pujangga sekolah yang terkenal dengan puisi-puisinya yang romantis dan banyak digilai cewek pula. Eliza dan Dewa memang cukup sering bertemu karena mereka satu kelompok belajar dan aku yakin sekali saat-saat yang dinantikan Eliza adalah ketika mereka belajar bersama. Aku barangkali memang tak terlalu pintar matematika dan agak payah dalam pelajaran fisika, tapi aku cukup jeli menangkap kedekatan mereka.
“Sejelas kamu melihat pensil ini, El”, kataku ketika Eliza bertanya bagaimana aku bisa tahu perasaannya pada Dewa sebelum Eliza sempat curhat denganku. Namun sayang, semuanya berakhir ketika kami lulus dan berpisah seiring dengan perbedaan keyakinan antara Dewa dan Eliza. Dewa dan aku masih satu sekolah, namun Eliza tidak. Jadi sesekali Eliza masih meminta informasi kepadaku dengan siapa Dewa sekarang berhubungan. Barangkali Eliza masih menyimpan kenangan manis pahit itu. Meski demikian ‘life must go on’, di sekolahnya yang baru Eliza telah menemukan pengganti Dewa, meski kembali tak satupun yang jadi pacar tetap hingga lulus SMA.
Laki-laki itu makhluk yang susah dimengerti apa maunya. Egois dan inginnya menang sendiri. Kadang kupikir kenapa Tuhan menciptakan mereka untuk kami para perempuan. Tapi seperti matahari yang kadang bersinar terik menjengkelkan, kami akan selalu membutuhkan mereka.
Satu lagi laki-laki hadir dalam kehidupan Eliza. Irul, teman kuliahnya di Sastra Inggris. Dia mungkin laki-laki yang baik dan penuh perhatian namun kadang lidahnya nyinyir seperti nenek-nenek. Entah apa yang diharapkannya dari perempuan. Irul memang care, sekaligus cerewet untuk urusan penampilan. Dia tak akan segan-segan mengomentari Eliza yang tomboy seperti aku atau terlalu ramah dan terbuka dengan teman-teman laki-laki lainnya. Kenapa cinta bisa menjadi belenggu ?. Tak terbayangkan oleh Eliza sebelumnya mereka akan terjebak cinta segitiga ala anak kuliahan.
Dengan dalih ingin kerja sambil kuliah, Eliza memilih kuliah malam, beda denganku yang siang-siang berkejaran dengan bus kota dan terik matahari, Eliza kadang-kadang harus nebeng mobil teman takut kemalaman. Dan itu menjadi awal hubungan Eliza dengan Irul.
Berawal dari acara pinjam buku, menyelesaikan assigment, cari buku bareng di perpustakaan, pulang bersama dan lain-lain mereka makin akrab. Apalagi Irul cukup manis, tinggi, gentleman, agak putih dan berkacamata. Komplit sudah sesuai kriteria pria idaman Eliza, karena itu Eliza rela ‘dipermak’ Irul. Eliza mulai berubah dari cara bicara, berpakaian dan sikap. Lebih feminin. Mungkin itu perubahan ke arah yang lebih baik. Tapi menurutku, tak perlu menjadi orang lain untuk bisa dicintai. Just love the way you are .
Lalu datanglah mimpi buruk itu. Irul berterus terang kalau dia sudah bertunangan dan masih berhubungan dengan mantan pacarnya yang dulu. Dan konyolnya dia berkata kalau sebenarnya ia ingin kembali dengan mantan pacarnya, pertunangan itu adalah rekayasa keluarga. Dan di mana Eliza ? siapa Eliza baginya ?. lagi-lagi Eliza harus patah.
Barangkali petualangan Eliza yang paling gila adalah ketika ia jatuh cinta pada seorang laki-laki yang sekalipun tak pernah bertemu dengannya. Cuma via SMS. Love is blind ? Atau cerita cinta ala Kahlil Gibran dan May Ziadah kembali berulang ?
Berawal dari sahabatku yang iseng menjodohkan Eliza dengan Dion, si playboy kampusku. Gayung bersambut, setelah saling bertukar nomer handphone, Eliza dan Dion pun saling kontak. Mulai dari SMS sekedar iseng bertanya kabar hingga yang isinya agak nyerempet ke arah serius, mereka janji untuk bertemu.
Aku sendiri tak yakin dengan hubungan jarak jauh semacam ini. Apalagi mereka belum pernah bertemu ditambah dengan reputasi Dion yang bagiku agak meragukan.
“Gimana kalau misalnya Dion itu jelek nggak ketulungan, panuan, berkutu dan lain-lain “, tanyaku.
“Katamu love is not just a physical attraction ? “, kata Eliza sambil cengengesan.
Tapi hari demi hari Dion berhasil meyakinkan Eliza kalau mereka sedang menuju ke arah hubungan yang serius meski belum punya kesempatan untuk bertemu langsung. Setiap kali mereka akan bertemu selalu saja ada halangan. Yang Dion harus mengantar kakaknya pergi keluar kota, ibunya sakit, teman lagi butuh bantuannya.
“Kucing tetangga beranaklah”, tambahku lagi ketika Dion membatalkan sekali lagi kencan mereka.
“Kamu yakin El, atas kesungguhan Dion ?”, tanyaku dan Eliza mengangguk mantap, aku Cuma bisa angkat bahu.
Dengan bantuanku, mereka bertukar foto, aku sampai tegang menanti reaksi Eliza setelah melihat tampang Dion yang jauh dari kriteria ‘perfect’ seperti yang Eliza inginkan. Cuma yang bikin aku heran, cowok yang termasuk kriteria ‘biasa-biasa’ ini ternyata digilai banyak perempuan di kampus.
Dan Eliza bisa menerima begitu saja. Ini keajaiban. Cinta memang ajaib sekaligus membingungkan.
Apa yang terjadi dengan Dion, sungguh di luar dugaanku. Sekali lagi ini adalah keajaiban, ternyata Dion malah mundur dan menghilang begitu saja dari kehidupan Eliza.
“Eliza terlalu cantik buatku”, begitu katanya padaku ketika kutanya kenapa dia pergi meninggalkan Eliza.
Aku mengerutkan dahi, berpikir keras, alasan apapula ini ?
”Bukannya kamu Cuma ingin memperpanjang daftar perempuan yang sudah kau buat patah hati ?”, tanyaku lagi
“Runa, kamu kok sinis banget sih!”. Setelah itu Dion pergi meninggalkanku dalam ketidakmengertian.
Itu adalah tamparan telak yang paling dirasakan Eliza, sekaligus membukakan mataku bahwa kesempurnaan fisik bukan segalanya. Eliza sempat kehilangan rasa percaya dirinya. Dia yang selama ini dianggap ratu, baik, cantik dan pintar ternyata ditolak oleh laki-laki biasa seperti Dion.
Laki-laki itu makhluk rumit serupa teka-teki yang sulit ditebak.
“Bukan salahmu El, Dion aja yang goblok. Emang di dunia ini persentase laki-laki bodoh dan pinter nggak jauh beda, sama banyak”.
Ketika Eliza bersedih hati, aku berusaha menghiburnya. Kata orang bijak, ketika pintu kebahagiaan yang satu tertutup, pintu yang lain dibukakan oleh-Nya. Meski Eliza belum memiliki pasangan hingga kini, tapi aku memintanya untuk yakin dan bersyukur atas apa yang telah dimilikinya sekarang. Fisik yang sempurna, keluarga dan teman-teman yang sangat menyayanginya. Meski dia pernah bertanya padaku suatu kali barangkali dia perlu diet, creambath, rebonding, pergi fitness atau ke spa, tampil seksi atau yang semacamnya, kukatakan padanya bahwa dia tak perlu memakai topeng untuk menarik perhatian laki-laki.
“Kita bukan merak yang kudu punya ekor yang bagus dan berwarna-warni untuk mendapatkan pejantan,” begitu kataku. Dan semua kejadian itu semoga tak berhenti membuatnya mencintai sesama. Meski cintanya sunyi tanpa gaung, tanpa gema.
Pagi ini ketika aku sedang mencabuti rumput liar di sela bunga- bunga di ‘rimba kecilku’, aku kembali mendengar sapaan centil itu
“Haii…..”.
Aku menoleh, Eliza ? dan olala…siapa lagi laki-laki yang sedang berdiri di sampingnya ?
“Stock baru ?”, tanyaku berbisik di telinganya. Eliza nyengir.
”Nemu di mana ?”, tanyaku lagi sambil melirik laki-laki itu.
”Ntar aku ceritain, sekarang ikut kami hang out yuk!”.
Jadilah hari itu aku harus menjadi obat nyamuk, istilah Eliza bila dia mengajakku jalan-jalan dengan pacarnya. Dia selalu meminta pendapatku bila ada laki-laki yang dekat dengannya. Kata Eliza dia percaya dengan instingku, apakah dia laki-laki baik atau tidak.
”Kalau kukatakan dia tidak baik, tapi kamu tetap cinta padanya gimana ?”, tanyaku
”Itu lain soal, dana bantuan politik saja bisa di mark-up, masak yang ini nggak bisa dibikin baik”, begitu komentarnya ringan.
Laki-laki itu namanya Rian, cukup manis dan lumayan enak untuk teman hang out dan ngobrol. Tapi kukatakan pada Eliza untuk tidak cepat-cepat jatuh cinta pada kesan pertama karena kita tidak pernah tahu apa yang ada di hati dan otak laki-laki. Namun itu adalah kelemahan Eliza, terlalu cepat percaya, terlalu cepat jatuh cinta dan terlalu mudah untuk dibuat jatuh cinta. Lagi-lagi cintanya berujung sunyi, karena Eliza harus kehilangan lagi.
Seperti sabtu malam ini, hujan kembali turun. Aku terjaga di depan mejaku, kubuka jendela lebar-lebar, sambil menikmati secangkir kopi panas, aku melihat ke bawah. Sepasang remaja berusaha berteduh dari hujan dengan sebuah jaket milik sang cowok. Aku tersenyum.
Mereka mungkin bisa jadi telah mengalami berulang kali patah hati sebelum akhirnya menemukan cinta sejatinya.
Aku jadi teringat Eliza, sahabatku semasa sekolah dulu. Eliza cantik, bahkan nyaris sempurna dan juga pintar. Kulitnya putih bersih, rambutnya coklat kemerahan seperti cewek bule, matanya ? beautiful brown eyes yang bisa bikin para lelaki tergila-gila padanya. Menurutku dia mirip artis cilik Shirley Temple bahkan dalam usianya yang sudah bukan remaja lagi. Iseng-iseng aku dan Eliza menelusuri silsilah keluarganya. Pantes bau bule, buyutnya keturunan kompeni eh Belanda ding. Kadang-kadang bila sedang berjalan di sampingnya aku merasa jadi si itik buruk rupa. Tapi kata teman-temanku yang lain, aku lebih mirip bodyguard daripada itik.
Seharusnya dengan wajah cantik, hati yang baik dan otak yang encer Eliza bisa punya pacar, hanya anehnya hingga kini dia masih belum punya pacar tetap, hanya Tuhan Yang Maha Tahu kenapa tak satupun dari semua laki-laki yang pernah dekat dengannya menjadi pacarnya. Apa yang salah ? Entahlah.
Cinta memang kadang berlaku di luar logika. Cinta memang bukan matematika, satu ditambah satu sama dengan dua. Apa yang mungkin terjadi menurut nalar, bisa jadi mustahil kalau sudah berhubungan dengan cinta. Bahkan Lia yang sebenernya nggak cantik-cantik amat, nggak pinter banget eh malah punya suami dokter.
Kadang kupikir barangkali Eliza yang terlalu pemilih, terlalu idealis bahkan pernah kukatakan padanya seharusnya Eliza mencintai orangnya bukan deskripsi. Simak saja apa yang diinginkannya dalam diri laki-laki pilihannya, baik, ganteng, putih, tinggi, pinter dan berkacamata. Barangkali dia lebih cocok dengan mister Jambul, si Jepang gila rekan kerjaku yang lebih suka kupanggil Jambul daripada nama aslinya karena rambutnya berjambul seperti ayam jago. Aku tak menyalahkan Eliza, semua orang berhak memiliki seseorang yang diidamkan, bahkan aku pun punya penggambaran laki-laki yang aku inginkan jadi pasangan hidupku kelak.
Tapi yang aku kagumi dari Eliza, meski sering berganti pasangan dan sesekali putus nyambung dengan pacar-pacarnya, Eliza tetap ceria. Kadang-kadang memang aku nggak ngerti dengan kegilaan temenku cewek satu ini. Hari ini putus cinta, besok sudah ketawa-ketawa lagi, hari berikutnya sudah jalan dengan yang lain lagi, seolah tidak ada beban hidup yang berat buatnya. Hidupnya itu bagai air yang mengalir, jalanin aja apa adanya, gitu prinsipnya.
Cinta yang bertepuk sebelah tangan memang menyakitkan. Namun lebih menyakitkan lagi bila saling mencintai namun tak bisa bersama.
Sesekali Eliza bersedih hati ketika dia bener-bener cinta mati dengan sang lelaki, namun ternyata bertepuk sebelah tangan, si lelaki Cuma menganggapnya teman ( tapi kok mereka mesra ya..), atau ketika mereka saling menyayangi, ada saja hal yang membuat mereka terpaksa harus berpisah.
Aku tak pernah keberatan menjadi teman curhatnya. Ada persamaan antara aku dan Eliza, sama-sama tak punya pacar, jadi malam minggu kami selalu bersama. Kadang-kadang aku ke rumahnya dan kita ngobrol berjam-jam, atau Eliza datang ke tempatku. Eliza pernah bertanya padaku kenapa aku bisa sesantai ini meski tak ada pacar.
“Tidakkah kamu ingin disayang dan diperhatikan seseorang ?”, tanya Eliza padaku suatu saat.
“Pacar itu penting ya ?”, aku malah balik bertanya yang kemudian malah menuai timpukan bantal, buku dan bolpen dari Eliza.
Sesekali aku memang ingin diperhatikan dan disayang seseorang, misalnya salah satu dari teman laki-laki yang selama ini dekat denganku. Tapi aku mungkin memang orang aneh seperti yang dikatakan Eliza padaku karena aku tak pernah menuntut untuk dijadikan pacar atau menjadikan mereka pacar. Mencintai dan dicintai itu kan nggak harus saling memiliki dan dimiliki, argumenku ketika Eliza menanyakan alasanku men-jomblo semasa sekolah dulu. Lagi pula aku dulu terlalu berambisi menjadi seorang penulis, jadi waktuku lebih banyak kupakai untuk banyak membaca buku, belajar menulis pada guru sastra Indonesia, jalan-jalan atau mengurusi mading sekolah. Lagi pula sebagian besar laki-laki yang dekat denganku lebih sering kujadikan sumber inspirasi puisi atau cerpenku. Mereka adalah orang-orang yang unik dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
“Sialan luh”, kata Eliza setelah mendengar alasanku dekat dengan mereka.
“Lho, emang salah ? Lha wong para cowok pelukis biasa dekat obyek lukisnya supaya lukisan mereka ‘hidup’, mana kadang-kadang disuruh bugil lagi, aku kan nggak sampe segitunya nyuruh mereka bugil”. Eliza tertawa ngakak lalu menjitak kepalaku.
Kukira, kalau seluruh kisah cinta Eliza dikumpulkan bisa jadi sebuah buku atau novel.
Kisah cinta pertama Eliza. Kami masih terlalu muda saat itu, awal masa remaja yang indah. Hingga kini aku masih saja selalu penasaran kenapa pada masa itu ada sebutan cinta monyet bukan ayam atau beruang ( emang yang bisa bercinta Cuma monyet doang ? )
Laki-laki itu bernama Dewa, laki-laki kelahiran pulau Dewata Bali, manis, pintar, baik, berkacamata ( walau tak berkulit putih ), apalagi dia punya suara merdu yang menjadikannya juara pertama lomba menyanyi di sekolah. Hampir semua teman perempuan menggilainya, terutama Eliza, kecuali aku yang saat itu sedang dekat dengan Joe, si pujangga sekolah yang terkenal dengan puisi-puisinya yang romantis dan banyak digilai cewek pula. Eliza dan Dewa memang cukup sering bertemu karena mereka satu kelompok belajar dan aku yakin sekali saat-saat yang dinantikan Eliza adalah ketika mereka belajar bersama. Aku barangkali memang tak terlalu pintar matematika dan agak payah dalam pelajaran fisika, tapi aku cukup jeli menangkap kedekatan mereka.
“Sejelas kamu melihat pensil ini, El”, kataku ketika Eliza bertanya bagaimana aku bisa tahu perasaannya pada Dewa sebelum Eliza sempat curhat denganku. Namun sayang, semuanya berakhir ketika kami lulus dan berpisah seiring dengan perbedaan keyakinan antara Dewa dan Eliza. Dewa dan aku masih satu sekolah, namun Eliza tidak. Jadi sesekali Eliza masih meminta informasi kepadaku dengan siapa Dewa sekarang berhubungan. Barangkali Eliza masih menyimpan kenangan manis pahit itu. Meski demikian ‘life must go on’, di sekolahnya yang baru Eliza telah menemukan pengganti Dewa, meski kembali tak satupun yang jadi pacar tetap hingga lulus SMA.
Laki-laki itu makhluk yang susah dimengerti apa maunya. Egois dan inginnya menang sendiri. Kadang kupikir kenapa Tuhan menciptakan mereka untuk kami para perempuan. Tapi seperti matahari yang kadang bersinar terik menjengkelkan, kami akan selalu membutuhkan mereka.
Satu lagi laki-laki hadir dalam kehidupan Eliza. Irul, teman kuliahnya di Sastra Inggris. Dia mungkin laki-laki yang baik dan penuh perhatian namun kadang lidahnya nyinyir seperti nenek-nenek. Entah apa yang diharapkannya dari perempuan. Irul memang care, sekaligus cerewet untuk urusan penampilan. Dia tak akan segan-segan mengomentari Eliza yang tomboy seperti aku atau terlalu ramah dan terbuka dengan teman-teman laki-laki lainnya. Kenapa cinta bisa menjadi belenggu ?. Tak terbayangkan oleh Eliza sebelumnya mereka akan terjebak cinta segitiga ala anak kuliahan.
Dengan dalih ingin kerja sambil kuliah, Eliza memilih kuliah malam, beda denganku yang siang-siang berkejaran dengan bus kota dan terik matahari, Eliza kadang-kadang harus nebeng mobil teman takut kemalaman. Dan itu menjadi awal hubungan Eliza dengan Irul.
Berawal dari acara pinjam buku, menyelesaikan assigment, cari buku bareng di perpustakaan, pulang bersama dan lain-lain mereka makin akrab. Apalagi Irul cukup manis, tinggi, gentleman, agak putih dan berkacamata. Komplit sudah sesuai kriteria pria idaman Eliza, karena itu Eliza rela ‘dipermak’ Irul. Eliza mulai berubah dari cara bicara, berpakaian dan sikap. Lebih feminin. Mungkin itu perubahan ke arah yang lebih baik. Tapi menurutku, tak perlu menjadi orang lain untuk bisa dicintai. Just love the way you are .
Lalu datanglah mimpi buruk itu. Irul berterus terang kalau dia sudah bertunangan dan masih berhubungan dengan mantan pacarnya yang dulu. Dan konyolnya dia berkata kalau sebenarnya ia ingin kembali dengan mantan pacarnya, pertunangan itu adalah rekayasa keluarga. Dan di mana Eliza ? siapa Eliza baginya ?. lagi-lagi Eliza harus patah.
Barangkali petualangan Eliza yang paling gila adalah ketika ia jatuh cinta pada seorang laki-laki yang sekalipun tak pernah bertemu dengannya. Cuma via SMS. Love is blind ? Atau cerita cinta ala Kahlil Gibran dan May Ziadah kembali berulang ?
Berawal dari sahabatku yang iseng menjodohkan Eliza dengan Dion, si playboy kampusku. Gayung bersambut, setelah saling bertukar nomer handphone, Eliza dan Dion pun saling kontak. Mulai dari SMS sekedar iseng bertanya kabar hingga yang isinya agak nyerempet ke arah serius, mereka janji untuk bertemu.
Aku sendiri tak yakin dengan hubungan jarak jauh semacam ini. Apalagi mereka belum pernah bertemu ditambah dengan reputasi Dion yang bagiku agak meragukan.
“Gimana kalau misalnya Dion itu jelek nggak ketulungan, panuan, berkutu dan lain-lain “, tanyaku.
“Katamu love is not just a physical attraction ? “, kata Eliza sambil cengengesan.
Tapi hari demi hari Dion berhasil meyakinkan Eliza kalau mereka sedang menuju ke arah hubungan yang serius meski belum punya kesempatan untuk bertemu langsung. Setiap kali mereka akan bertemu selalu saja ada halangan. Yang Dion harus mengantar kakaknya pergi keluar kota, ibunya sakit, teman lagi butuh bantuannya.
“Kucing tetangga beranaklah”, tambahku lagi ketika Dion membatalkan sekali lagi kencan mereka.
“Kamu yakin El, atas kesungguhan Dion ?”, tanyaku dan Eliza mengangguk mantap, aku Cuma bisa angkat bahu.
Dengan bantuanku, mereka bertukar foto, aku sampai tegang menanti reaksi Eliza setelah melihat tampang Dion yang jauh dari kriteria ‘perfect’ seperti yang Eliza inginkan. Cuma yang bikin aku heran, cowok yang termasuk kriteria ‘biasa-biasa’ ini ternyata digilai banyak perempuan di kampus.
Dan Eliza bisa menerima begitu saja. Ini keajaiban. Cinta memang ajaib sekaligus membingungkan.
Apa yang terjadi dengan Dion, sungguh di luar dugaanku. Sekali lagi ini adalah keajaiban, ternyata Dion malah mundur dan menghilang begitu saja dari kehidupan Eliza.
“Eliza terlalu cantik buatku”, begitu katanya padaku ketika kutanya kenapa dia pergi meninggalkan Eliza.
Aku mengerutkan dahi, berpikir keras, alasan apapula ini ?
”Bukannya kamu Cuma ingin memperpanjang daftar perempuan yang sudah kau buat patah hati ?”, tanyaku lagi
“Runa, kamu kok sinis banget sih!”. Setelah itu Dion pergi meninggalkanku dalam ketidakmengertian.
Itu adalah tamparan telak yang paling dirasakan Eliza, sekaligus membukakan mataku bahwa kesempurnaan fisik bukan segalanya. Eliza sempat kehilangan rasa percaya dirinya. Dia yang selama ini dianggap ratu, baik, cantik dan pintar ternyata ditolak oleh laki-laki biasa seperti Dion.
Laki-laki itu makhluk rumit serupa teka-teki yang sulit ditebak.
“Bukan salahmu El, Dion aja yang goblok. Emang di dunia ini persentase laki-laki bodoh dan pinter nggak jauh beda, sama banyak”.
Ketika Eliza bersedih hati, aku berusaha menghiburnya. Kata orang bijak, ketika pintu kebahagiaan yang satu tertutup, pintu yang lain dibukakan oleh-Nya. Meski Eliza belum memiliki pasangan hingga kini, tapi aku memintanya untuk yakin dan bersyukur atas apa yang telah dimilikinya sekarang. Fisik yang sempurna, keluarga dan teman-teman yang sangat menyayanginya. Meski dia pernah bertanya padaku suatu kali barangkali dia perlu diet, creambath, rebonding, pergi fitness atau ke spa, tampil seksi atau yang semacamnya, kukatakan padanya bahwa dia tak perlu memakai topeng untuk menarik perhatian laki-laki.
“Kita bukan merak yang kudu punya ekor yang bagus dan berwarna-warni untuk mendapatkan pejantan,” begitu kataku. Dan semua kejadian itu semoga tak berhenti membuatnya mencintai sesama. Meski cintanya sunyi tanpa gaung, tanpa gema.
Pagi ini ketika aku sedang mencabuti rumput liar di sela bunga- bunga di ‘rimba kecilku’, aku kembali mendengar sapaan centil itu
“Haii…..”.
Aku menoleh, Eliza ? dan olala…siapa lagi laki-laki yang sedang berdiri di sampingnya ?
“Stock baru ?”, tanyaku berbisik di telinganya. Eliza nyengir.
”Nemu di mana ?”, tanyaku lagi sambil melirik laki-laki itu.
”Ntar aku ceritain, sekarang ikut kami hang out yuk!”.
Jadilah hari itu aku harus menjadi obat nyamuk, istilah Eliza bila dia mengajakku jalan-jalan dengan pacarnya. Dia selalu meminta pendapatku bila ada laki-laki yang dekat dengannya. Kata Eliza dia percaya dengan instingku, apakah dia laki-laki baik atau tidak.
”Kalau kukatakan dia tidak baik, tapi kamu tetap cinta padanya gimana ?”, tanyaku
”Itu lain soal, dana bantuan politik saja bisa di mark-up, masak yang ini nggak bisa dibikin baik”, begitu komentarnya ringan.
Laki-laki itu namanya Rian, cukup manis dan lumayan enak untuk teman hang out dan ngobrol. Tapi kukatakan pada Eliza untuk tidak cepat-cepat jatuh cinta pada kesan pertama karena kita tidak pernah tahu apa yang ada di hati dan otak laki-laki. Namun itu adalah kelemahan Eliza, terlalu cepat percaya, terlalu cepat jatuh cinta dan terlalu mudah untuk dibuat jatuh cinta. Lagi-lagi cintanya berujung sunyi, karena Eliza harus kehilangan lagi.
Cerpen ; Bintang dan Kegelapan
Kadang-kadang kalau sedang nggak ada kerjaan aku sering berpikir sambil
memandang bintang dan kegelapan di atas sana. Mana yang lebih berarti dari
mereka ? Bintang atau kegelapan itu ?
Pikiranku nakal melompat-lompat seperti bocah ingusan bermain dalam hujan.
Barangkali bintang itu tak memerlukan kegelapan karena apapun yang terjadi
bintang tetaplah bintang, bersinar karena punya kemampuan mengeluarkan
cahayanya sendiri ( meski tak terlihat pada siang hari karena matahari yang
angkuh itu ). Kupikir kegelapan tak memerlukan bintang untuk membuatnya lebih
berarti. Kegelapan membuat kita menghargai sekecil apapun cahaya.
Kemudian aku beralih memikirkan dia. Seorang laki-laki biasa yang kutemui tanpa peristiwa yang luar biasa. Ia menyapaku, memperkenalkan diri dan berceloteh tentang pantai, karang dan semiotik, Cahiril Anwar, Gibran dan bla bla bla, mengganggu kesendirianku di pantai itu, tiga tahun yang lalu. Anehnya aku menatapnya penuh kekaguman ( tanpa bermaksud memasukkannya ke dalam hatiku ), melayani ajakannya berdiskusi. Dia semakin dekat denganku. Mungkin karena aku membiarkannya masuk begitu saja seperti bonek, supporter bola yang sering masuk ke stadion tanpa tiket lalu berteriak seenaknya memekakkan telinga. Dia memang bukan bonek, tak hobi nonton bola dan tak suka berteriak, tapi kehadirannya tanpa permisi telah mengubah hari-hariku yang kelabu dan selalu sedih menjadi lain ( atau malah lebih berantakan ? ).
Akhir-akhir ini aku sering memikirkannya. Lebih sering dari biasanya. Lazimnya aku memikirkan dia sangat bangun tidur pagi hari, sedikit waktu kala jam makan siang kantor dan semenit menjelang tidur. Kadang-kadang aku menelpon, mengirimi email atau membalas suranya via pos. Tapi kali ini lain. Aku sangat memikirkannya. Bukan rindu seperti biasanya, juga bukan untuk membayangkan senyumnya yang memabukkan atau bahunya tempat aku bersandar bila aku mulai ngantuk dan lelah dengan beban pekerjaan yang berat dan menjemukan. Bukan.
Pekerjaan “memikirkan dia lebih dari biasa” itu mulai kulakukan setelah pada suatu petang di sebuah kafe dia berkata padaku “aku ingin melamarmu jadi istriku”. Datar, sedatar juru masak ganteng di televisi mengatakan ‘setelah angkat, tiriskan..”. Entah apa maksudnya berkata dengan nada sedatar itu, apakah dia hendak mempermainkan aku, aku tak yakin. Dan aku tak tahu harus menjawab apa, tampangnya polos, jauh dari romantis dan aku tersenyum bodoh seperti gadis ingusan. Kemudian hari-hari berlalu tanpa ada jawaban yang pasti dariku. Kami tak sering bertemu, perjumpaanku dengannya tak pernah lebih dari jumlah jadi tangan, hanya surat-suratnya yang makin memenuhi kotak penyimpan surat. Aku selalu menyediakan tempat khusus untuk surat-suratnya.
Aku mencintainya ? Kurasa memang benar aku mencintainya. Aku menerima segala kelebihan dan kekurangannya seperti halnya dia menerimaku apa adanya, aku memberinya semangat dan perhatian, menemaninya, setidaknya aku ingat tanggal kelahirannya, hobinya, teman-teman dekatnya dan lain-lain.
Bagaimana ku mencintainya ? Itu juga sungguh tak bisa kumengerti, segalanya berjalan begitu saja seperti artis sinetron yang berimprovisasi tanpa menghiraukan skenario yang dibikin. Spontan. Kurasa dia juga demikian.
Yang kini kupikirkan adalah apakah aku membutuhkan dia ? Kadang-kadang egoku sering mengatakan ‘kau tak membutuhkan siapapun termasuk laki-laki itu”. Tapi sisi keperempuan-an ku yang lemah berbisik “kau membutuhkannya” Dan bila egoku yang menang aku akan membayangkan diriku seperti Xena, cewek jagoan yang perkasa dan berani menghadapi lawan-lawannya yang kebanyakan berjenis kelamin laki-laki seorang diri. Tak berminat pada seks dan kewajiban bereproduksi, walau dalam salah satu episode Xena dikisahkan memiliki anak hasil hubungan dengan Ares, si dewa perang Yunani. Dan aku suka sekali membayangkan diriku seperti Xena , bukan karena aku bisa memainkan peadang, melempar cakram ataupun menendang lawannya yang kebanyakan kaum adam itu, tapi semangat, kemandirian dan kemampuannya bertahan hidup.
Sejak kecil aku telah kehilangan kedua orang tua. Bapak dan ibuku meninggal dunia dalam selisih waktu yang tidak terlalu lama. Saat itu aku baru berumur lima tahun. Bagiku itu adalah kehilangan cinta yang terbesar dalam hidupku. Bertahun lamanya aku mencoba bertahan menerima kenyataan ini. Kuanggap ini adalah sebagian dari kekuranganku.
Berpikir kembali tentang Xena, tentang “the independent woman” , “apakah aku harus menikah ?” membuatku berpikir tentang alasan kebanyakan orang memilih menikah daripada melajang. Karena cinta ? Bagaimana kalau suatu saat nanti aku tak lagi mencintainya dan diapun lelah mencintaiku ? Karena kesamaan minat ? Kalau suatu hari kami berbeda pendapat dan tak lagi sejalan, apakah perkawinan kami dapat dipertahankan ? Karena aku membutuhkannya ?Sebagai apa ? Pelindung ? Bodyguard ? Yang akan menjagaku dari segala marabahaya ? Sebagai suami yang memberiku nafkah lahir dan batin ?. Aku kan bisa cari duit sendiri, aku toh bisa menjaga diri, tapi aku tak cukup punya nyali untuk menjadi seorang lesbian ! Ataukah perkawinan hanya sekedar pemuasan kebutuhan “itu”, lalu perselingkuhan akan merajalela dengan dalih pasanganya tak pernah bisa berhasil memuaskan hasratnya.
Dan bila khayalanku tentang Xena mulai kumat, aku akan dengan angkuh menolak ajakannya, tak membalas surat-suratnya, tak menelepon atau berlagak dingin kalau dia menelepon, tak mengiriminya email, menyingkirkan foto dan barang-barang yang mengingatkanku padanya. Tapi aku masih berusaha menjaga perasaanya meski aku harus mengiriminya greeting dengan rasa rindu yang hambar. Menyibukkan diri dengan pekerjaan hingga larut malam atau menerima ajakan nonton atau lunch teman pria sekantor. Benar-benar independent. Aku pun biasa mengambil keputusan sendiri. Perselingkuhan ? Kurasa tidak. Aku tak pernah memberi kepastian sikap pada teman-teman pria yang mengajakku pergi, aku lebih suka berjalan apa adanya tanpa harus mengikatkan diri denganku, terserah, setelah ini dia mengajak teman lain. It’s oke, I have my own life.
Suatu saat aku merasa rapuh, mungkin kali ini sisi ke-perempuan-anku yang berbicara. Aku membutuhkan dia ketika aku mulai lelah dan kesal dengan beban pekerjaan dan orang-orang yang menyebalkan yang sering menikamku dari belakang seperti pengecut berwajah malaikat. Dia selalu menghiburku, selalu ada di saat aku membutuhkannya, menyayangiku dengan kasihnya yang berlimpah. Kadang-kadang dia seperti orang tua yang bijaksana memberiku beragam petuah yang anehnya selalu aku turuti. Kadang-kadang dia seperti seorang ustadz yang sering berkotbah tiap hari jum’at menunjukkan jalan ke surga. Tapi dia juga bisa seperti seorang teman yang baik, mendengarkan keluhanku, memberiku solusi dan kadang-kadang materi. Kalau sudah begitu aku akan setengah mati merindukannya, meneleponnya, mengiriminya email dan sebagainya, seolah aku gadis ingusan baru berumur tujuh belas yang sedang jatuh cinta untuk pertama kali. Aku akan mengabaikan ajakan dinner dan nonton dengan teman-temanku, memilih menghabiskan waktu denganya berdiskusi, membaca buku dan puisi, nonton atau sekedar berjalan-jalan di taman kota bila dia punya banyak waktu untuk berkunjung ke kotaku. Lebih sering aku menulis surat yang panjang berkisah tentang banyak hal bila dia tak bisa datang.
Kebutuhan. Mungkin identik dengan segala sesuatu yang kita inginkan atau pernah hilang dalam hidup kita. Apa yang kurasakan ketika dia ada di saat-saat yang paling kubutuhkan adalah aku merasa dicintai, disayangi dan dihargai ( sesuatu yang pernah terampas dari masa kanak-kanaku ). Dan aku butuh itu. Ini adalah sisi ke-perempuan-an ku yang tengah berbicara, biarlah, aku kan perempuan. Bila dia menjadi suamiku kelak, aku akan bisa melihatnya tiap hari di sampingku, aku akan banyak bicara dengannya, ada tempat buatku berbagi beban hidup, teman diskusi yang asyik, yang akan mengawalku kemana aku pergi. Tapi akan lebih rumit lagi bila pikirannku kemballi nakal berujar “kalau aku sudah tak butuh dia lagi, bagaimana ?”
Mengapa Tuhan menciptakan bintang dan kegelapan ? Karena Tuhan tahu mereka saling membutuhkan, betapapun angkuh kegelapan itu.
Sda, April 2001
Kemudian aku beralih memikirkan dia. Seorang laki-laki biasa yang kutemui tanpa peristiwa yang luar biasa. Ia menyapaku, memperkenalkan diri dan berceloteh tentang pantai, karang dan semiotik, Cahiril Anwar, Gibran dan bla bla bla, mengganggu kesendirianku di pantai itu, tiga tahun yang lalu. Anehnya aku menatapnya penuh kekaguman ( tanpa bermaksud memasukkannya ke dalam hatiku ), melayani ajakannya berdiskusi. Dia semakin dekat denganku. Mungkin karena aku membiarkannya masuk begitu saja seperti bonek, supporter bola yang sering masuk ke stadion tanpa tiket lalu berteriak seenaknya memekakkan telinga. Dia memang bukan bonek, tak hobi nonton bola dan tak suka berteriak, tapi kehadirannya tanpa permisi telah mengubah hari-hariku yang kelabu dan selalu sedih menjadi lain ( atau malah lebih berantakan ? ).
Akhir-akhir ini aku sering memikirkannya. Lebih sering dari biasanya. Lazimnya aku memikirkan dia sangat bangun tidur pagi hari, sedikit waktu kala jam makan siang kantor dan semenit menjelang tidur. Kadang-kadang aku menelpon, mengirimi email atau membalas suranya via pos. Tapi kali ini lain. Aku sangat memikirkannya. Bukan rindu seperti biasanya, juga bukan untuk membayangkan senyumnya yang memabukkan atau bahunya tempat aku bersandar bila aku mulai ngantuk dan lelah dengan beban pekerjaan yang berat dan menjemukan. Bukan.
Pekerjaan “memikirkan dia lebih dari biasa” itu mulai kulakukan setelah pada suatu petang di sebuah kafe dia berkata padaku “aku ingin melamarmu jadi istriku”. Datar, sedatar juru masak ganteng di televisi mengatakan ‘setelah angkat, tiriskan..”. Entah apa maksudnya berkata dengan nada sedatar itu, apakah dia hendak mempermainkan aku, aku tak yakin. Dan aku tak tahu harus menjawab apa, tampangnya polos, jauh dari romantis dan aku tersenyum bodoh seperti gadis ingusan. Kemudian hari-hari berlalu tanpa ada jawaban yang pasti dariku. Kami tak sering bertemu, perjumpaanku dengannya tak pernah lebih dari jumlah jadi tangan, hanya surat-suratnya yang makin memenuhi kotak penyimpan surat. Aku selalu menyediakan tempat khusus untuk surat-suratnya.
Aku mencintainya ? Kurasa memang benar aku mencintainya. Aku menerima segala kelebihan dan kekurangannya seperti halnya dia menerimaku apa adanya, aku memberinya semangat dan perhatian, menemaninya, setidaknya aku ingat tanggal kelahirannya, hobinya, teman-teman dekatnya dan lain-lain.
Bagaimana ku mencintainya ? Itu juga sungguh tak bisa kumengerti, segalanya berjalan begitu saja seperti artis sinetron yang berimprovisasi tanpa menghiraukan skenario yang dibikin. Spontan. Kurasa dia juga demikian.
Yang kini kupikirkan adalah apakah aku membutuhkan dia ? Kadang-kadang egoku sering mengatakan ‘kau tak membutuhkan siapapun termasuk laki-laki itu”. Tapi sisi keperempuan-an ku yang lemah berbisik “kau membutuhkannya” Dan bila egoku yang menang aku akan membayangkan diriku seperti Xena, cewek jagoan yang perkasa dan berani menghadapi lawan-lawannya yang kebanyakan berjenis kelamin laki-laki seorang diri. Tak berminat pada seks dan kewajiban bereproduksi, walau dalam salah satu episode Xena dikisahkan memiliki anak hasil hubungan dengan Ares, si dewa perang Yunani. Dan aku suka sekali membayangkan diriku seperti Xena , bukan karena aku bisa memainkan peadang, melempar cakram ataupun menendang lawannya yang kebanyakan kaum adam itu, tapi semangat, kemandirian dan kemampuannya bertahan hidup.
Sejak kecil aku telah kehilangan kedua orang tua. Bapak dan ibuku meninggal dunia dalam selisih waktu yang tidak terlalu lama. Saat itu aku baru berumur lima tahun. Bagiku itu adalah kehilangan cinta yang terbesar dalam hidupku. Bertahun lamanya aku mencoba bertahan menerima kenyataan ini. Kuanggap ini adalah sebagian dari kekuranganku.
Berpikir kembali tentang Xena, tentang “the independent woman” , “apakah aku harus menikah ?” membuatku berpikir tentang alasan kebanyakan orang memilih menikah daripada melajang. Karena cinta ? Bagaimana kalau suatu saat nanti aku tak lagi mencintainya dan diapun lelah mencintaiku ? Karena kesamaan minat ? Kalau suatu hari kami berbeda pendapat dan tak lagi sejalan, apakah perkawinan kami dapat dipertahankan ? Karena aku membutuhkannya ?Sebagai apa ? Pelindung ? Bodyguard ? Yang akan menjagaku dari segala marabahaya ? Sebagai suami yang memberiku nafkah lahir dan batin ?. Aku kan bisa cari duit sendiri, aku toh bisa menjaga diri, tapi aku tak cukup punya nyali untuk menjadi seorang lesbian ! Ataukah perkawinan hanya sekedar pemuasan kebutuhan “itu”, lalu perselingkuhan akan merajalela dengan dalih pasanganya tak pernah bisa berhasil memuaskan hasratnya.
Dan bila khayalanku tentang Xena mulai kumat, aku akan dengan angkuh menolak ajakannya, tak membalas surat-suratnya, tak menelepon atau berlagak dingin kalau dia menelepon, tak mengiriminya email, menyingkirkan foto dan barang-barang yang mengingatkanku padanya. Tapi aku masih berusaha menjaga perasaanya meski aku harus mengiriminya greeting dengan rasa rindu yang hambar. Menyibukkan diri dengan pekerjaan hingga larut malam atau menerima ajakan nonton atau lunch teman pria sekantor. Benar-benar independent. Aku pun biasa mengambil keputusan sendiri. Perselingkuhan ? Kurasa tidak. Aku tak pernah memberi kepastian sikap pada teman-teman pria yang mengajakku pergi, aku lebih suka berjalan apa adanya tanpa harus mengikatkan diri denganku, terserah, setelah ini dia mengajak teman lain. It’s oke, I have my own life.
Suatu saat aku merasa rapuh, mungkin kali ini sisi ke-perempuan-anku yang berbicara. Aku membutuhkan dia ketika aku mulai lelah dan kesal dengan beban pekerjaan dan orang-orang yang menyebalkan yang sering menikamku dari belakang seperti pengecut berwajah malaikat. Dia selalu menghiburku, selalu ada di saat aku membutuhkannya, menyayangiku dengan kasihnya yang berlimpah. Kadang-kadang dia seperti orang tua yang bijaksana memberiku beragam petuah yang anehnya selalu aku turuti. Kadang-kadang dia seperti seorang ustadz yang sering berkotbah tiap hari jum’at menunjukkan jalan ke surga. Tapi dia juga bisa seperti seorang teman yang baik, mendengarkan keluhanku, memberiku solusi dan kadang-kadang materi. Kalau sudah begitu aku akan setengah mati merindukannya, meneleponnya, mengiriminya email dan sebagainya, seolah aku gadis ingusan baru berumur tujuh belas yang sedang jatuh cinta untuk pertama kali. Aku akan mengabaikan ajakan dinner dan nonton dengan teman-temanku, memilih menghabiskan waktu denganya berdiskusi, membaca buku dan puisi, nonton atau sekedar berjalan-jalan di taman kota bila dia punya banyak waktu untuk berkunjung ke kotaku. Lebih sering aku menulis surat yang panjang berkisah tentang banyak hal bila dia tak bisa datang.
Kebutuhan. Mungkin identik dengan segala sesuatu yang kita inginkan atau pernah hilang dalam hidup kita. Apa yang kurasakan ketika dia ada di saat-saat yang paling kubutuhkan adalah aku merasa dicintai, disayangi dan dihargai ( sesuatu yang pernah terampas dari masa kanak-kanaku ). Dan aku butuh itu. Ini adalah sisi ke-perempuan-an ku yang tengah berbicara, biarlah, aku kan perempuan. Bila dia menjadi suamiku kelak, aku akan bisa melihatnya tiap hari di sampingku, aku akan banyak bicara dengannya, ada tempat buatku berbagi beban hidup, teman diskusi yang asyik, yang akan mengawalku kemana aku pergi. Tapi akan lebih rumit lagi bila pikirannku kemballi nakal berujar “kalau aku sudah tak butuh dia lagi, bagaimana ?”
Mengapa Tuhan menciptakan bintang dan kegelapan ? Karena Tuhan tahu mereka saling membutuhkan, betapapun angkuh kegelapan itu.
Sda, April 2001
Subscribe to:
Posts (Atom)

