Showing posts with label Kisah Inspiratif. Show all posts
Showing posts with label Kisah Inspiratif. Show all posts

Saturday, May 24, 2014

Tuhan Tahu tapi menunggu* # The Power of Dream

Yume yang artinya Impian

*Kutipan dalam novel karya Leo Tolstoy

Dalam perjalananku meraih impian aku tahu akan menjumpai kesulitan dan mengalami kegagalan, namun aku tak suka membuang waktuku menyalahkan orang lain, keadaan yang serba kekurangan atau bahkan Tuhan. Sungguh, kita tak bisa menilai kuasa dan keadilanNya melalui standar manusia. Bila aku tak bisa mendapatkan apa yang kuinginkan, Tuhan pasti telah memberikan apa yang kuperlukan. Yang kulakukan hanya berhenti sejenak dalam perjalananku, berdiam diri dalam keheningan, menerima segalanya dan melihat kembali apa yang telah kukerjakan. Kita tak akan pernah dapat melihat dan mengakui kesalahan bila ego kita masih terlalu tinggi. Berusaha rendah hati dengan diri sendiri dan di hadapan Tuhan, menyadari kekurangan diri. 

Hidup itu untuk kuperjuangkan, bukan kupertanyakan. Aku tak perlu bertanya mengapa aku diberi kesulitan, kemiskinan, kebodohan dan kegagalan. Aku hanya perlu meminta kepadaNya, agar ditunjukkan cara mengatasinya.
Yang kuminta selalu agar aku diberi sedikit kesabaran, sedikit saja agar kuat menghadapinya.
Tuhanlah Yang Maha Tahu yang terbaik dan hanya kepadaNya lah tempat kita meminta.

Dream - Believe - Make it happen.
Beberapa orang kutahu takut bermimpi. Padahal dengan memiliki impian lah keimanan kita akan diuji karena di dalamnya mengandung keyakinan dan kepercayaan kita akan kuasaNya. Ada Iman dalam Impian.
Separuh orang takut bermimpi karena takut gagal. Sebagian lagi takut bermimpi karena takut ditertawakan. Mengapa hidup kita harus bergantung kepada manusia lain bila Allah telah cukup sebagai sebaik-baik penolong kita?

Adakalanya kita memang diuji dengan kegagalan dan kesulitan, namun kuyakin Tuhan Yang Maha Tahu itu tengah menungguku seberapa tangguh aku memperjuangkan impian-impianku.
Kalau saja aku menyerah pada bullying senior di kantor, barangkali aku tak akan pernah menerima beasiswa dari perusahaan tempatku bekerja dan tak akan pernah menginjakkan kaki di negeri impianku, Jepang.
Kalau saja aku malas dan enggan belajar, atasanku tak akan pernah melihat potensiku yang lain.
Kalau saja aku tak punya sikap diri yang baik, aku tak akan bisa bertahan dengan bullying itu.

Aku akhirnya menyadari sedang dipersiapkan oleh Tuhan untuk meraih apa yang kuimpikan. Barangkali di dunia ini ada sejumlah orang yang tak perlu merasakan begitu banyak kesulitan dalam meraih impiannya. Namun tahukah kamu..betapa langit cerah akan semakin bermakna seusai kita mengalami hujan badai yang begitu kelam dan bagai tanpa harapan?.
Kamu tahu apa yang kurasakan? ketika aku satu pesawat dengan presiden direktur tempatku bekerja ( walau beda kelas karena beliau di business class dan aku di kelas ekonomi? ) It`s amazing. Rasanya aku tidak percaya, itu untuk pertama kalinya aku naik pesawat Garuda, diantar oleh presdir menuju perusahaan tempatku belajar. Meski hanya short course tapi aku sangat bersyukur. Impianku tergapai. Ketika aku menginjakkan kaki di bandara Internasional Narita Tokyo, aku tahu, aku merasa sedang berada di rumah kedua.

Aku ingat seorang teman yang keluarganya bertubi-tubi dihadapi begitu banyak masalah sejak orang tuanya dituduh korupsi dan dipaksa mengakui perbuatan yang tak dilakukannya. Terpaksa harus hidup dengan kemiskinan namun terhormat. Bapaknya memilih mengundurkan diri ketimbang pasang badan melindungi koruptor itu dan berjualan sayur di pasar, menghidupi ke 4 anaknya. Berkat kejujuran dan kesabarannya, kini putra ketiga, temanku itu, telah lulus S3 dan bekerja di Jepang. 
Jadi ingat pada saat dia kuliah S2 di Jepang, aku bertemu dengannya  di kota Ashikaga, dia tertawa riang menyambutku dan berkata " Dear Soulmate aku tahu kita hidup dalam impian yang sangat besar dan akhirnya dipertemukan oleh impian itu disini"

Yume..artinya impian. Bersamanya kujaga Iman, dan Harapan. 
Jangan pernah takut bermimpi karena Tuhan akan menjaga impianmu selama kamu mau berusaha menjaga Imanmu.

Saturday, November 16, 2013

SEMANGATMU INSPIRASI KAMI, Mbak Nur Fadilah….

Sore itu saya berkunjung ke rumah mbak Nur Fadilah, ketika akhirnya saya menemukan kediamannya di kawasan Putat Tanggulangin dan bertemu dengannya, saya sempat terkesima. Saya sempat berpikir saya akan menemukan sosok yang lemah, gundul akibat kemoterapi dan beragam gambaran negatif tentang orang yang mengidap kanker, bahkan saya mungkin akan mewawancarai dia di tempat tidur, mengingat kondisinya .
Namun yang saya temukan adalah sosok yang berbeda, meski dengan nafas tersengal, dia tetap bersemangat menemui saya, mengajak saya masuk dan kami pun duduk di ruang tamu, berbincang-bincang santai seperti layaknya ngobrol dengan orang yang sehat. Senang rasanya berada di rumah yang tertata rapi dan bersih, bertemu dengan ketiga putranya yang sehat dan ceria. Suami saat itu sedang bekerja sehingga tidak dapat saya temui.
Nur Fadilah adalah salah satu karyawan Ecco yang telah bekerja dengan posisi sebagai Instruktur sejak tahun 1991, 23 tahun lalu. Dia adalah salah seorang karyawan yang sangat baik dan berdedikasi dalam menjalankan pekerjaannya. Namun, kanker payudara yang diidapnya terpaksa membuatnya harus mengakhiri karirnya sebagai seorang Instruktur.
Awalnya Nur Fadilah sangat terpukul dan tidak percaya bahwa dirinya mengidap kanker. Bahkan menurut dia, sempat selama 3 hari sejak divonis dokter bahwa benjolan tersebut adalah kanker ganas, Nur Fadilah nyaris tidak mau makan dan minum, tidak mau berbicara dengan siapapun bahkan dengan anak dan suami, sedih dan sangat terpukul. Namun akhirnya dia bisa menerima keadaannya dan setuju menjalani operasi untuk mengangkat kanker tersebut.
Sewaktu saya tanya, apa yang membuat dia begitu yakin dan kuat menghadapi semua cobaan ini? Dia menjawab sambil tersenyum,”Anak-anak dan suami yang sangat mencintai saya yang membuat saya kuat untuk menjalani semua ini”.
Betapa bersyukurnya Nur Fadilah memiliki anak-anak yang sangat mengerti kondisi sakitnya dan support suami yang rela meluangkan waktu diantara kesibukannya bekerja untuk merawat istri tercinta sekaligus memberikan dorongan dan semangat untuk sembuh seperti sediakala. Dia sangat bangga, memiliki suami yang mau menerima kondisinya apa adanya.
Nur Fadilah sendiri mengatakan bahwa dia sama sekali tidak mau di kemoterapi, hanya mengkonsumsi obat herbal keladi tikus untuk membunuh sisa-sisa kanker yang masih ada dalam tubuhnya.
Katanya,” Kedua kakak saya meninggal karena kanker dan mereka menjalani kemoterapi, jadi buat apa saya harus kemoterapi?”.
Ketika ditanya apakah Nur Fadilah masih ingin bekerja ketika kondisinya telah sehat seperti sediakala ? jawabnya dengan penuh semangat `Otak saya masih bisa untuk berpikir dan bekerja, dan saya masih sangat ingin bekerja di Ecco, 23 tahun mengabdi di sana rasanya belum cukup, saya masih ingin bermanfaat disana. Namun apa daya kondisi fisik dan tenaga saya yang tidak memungkinkan. Saya menjadi gampang lelah dan sesak nafas bila berjalan agak jauh atau melakukan aktifitas yang agak berat.
23 tahun bekerja di Ecco membuatnya rindu untuk kembali bekerja, bersama-sama teman-teman yang sudah dianggapnya seperti keluarga sendiri dan dia bangga menjadi bagian dari Keluarga Besar Ecco.
Nur Fadilah sangat bersyukur dan berterima kasih memiliki teman-teman kerja yang sangat mendukung dan memberinya semangat. Dia teringat hari menjelang operasi teman-temannya menelepon memberikan doa dan semangat. Teman-teman pun silih berganti datang menjenguknya atau sekedar menelepon menanyakan kabar.  
Saya terharu dengan semangatnya, dengan kerinduannya untuk kembali bekerja, dan keyakinannya untuk sembuh yang sangat besar.
“Saya yakin, dengan seijin Tuhan, mbak akan sembuh dan bisa kembali lagi bekerja”, kata saya saat itu.
Nur Fadilah juga menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Management PT. ECCO Indonesia yang telah memberikan dukungan baik moril maupun materiil hingga dia dapat menjalani operasi dan pengobatan. Sekaligus memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila selama bekerja di Ecco Nur Fadilah selaku indvidu dan instruktur melakukan banyak kesalahan baik yang disengaja maupun tidak.
“Semangatmu inspirasi kami, mbak Nur”, kata saya sore itu, mengakhiri pertemuan. Kamipun saling berpelukan. Tidak ada kata yang dapat saya sampaikan untuk membesarkan hatinya, bahkan saya harus mengakui bahwa saya telah belajar darinya tentang semangat, tentang loyalitas bekerja dan tentang daya survive yang tinggi dari seorang pengidap kanker seperti mbak Nur Fadilah. Semangat yang tidak akan pernah mati demi memberikan yang terbaik untuk Ecco Indonesia.
Tetap semangat mbak Nur Fadilah, kami menantimu kembali memberikan sumbangsih demi kesuksesan PT. Ecco Indonesia di masa yang akan datang.


 PS : Beliau telah meninggal dunia pada tanggal 14 September 2013, 2 bulan setelah saya wawancarai. Semoga semua amalan beliau di terima di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan mendapatkan ketabahan dan kesabaran.

Sunday, July 14, 2013

It’s a Wonderful Life - A good Motivation

Kisah Inspiratif ini saya copas dari harian KOMPAS SABTU, 5 JANUARI 2008

It’s a Wonderful Life
Eileen Rachman & Sylvina Savitri ( Experd Growth & Soft Skill Training )


Teman saya pernah mengajarkan,”Bila menghadapi kehilangan, kematian dan suasana duka, ucapkanlah “Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun”.Sebaliknya, bila takjub dengan keajaiban dan keindahan alam, menghadapi situasi dan pengalaman yang menyenangkan, ucapkan juga kalimat tersebut, yang juga berarti “Segala yang berasal dari Allah yang Maha Kuasa akan kembali kepada Allah. Bagi saya kalimat ini sangat membantu di saat –saat sangat susah atau sangat senang, karena pada saat itulah kita seakan diingatkan kembali bahwa adik, kakak, anak, pasangan, rizki, keindahan alam, jabatan, karir dan sehebat – hebatnya ikhtiar kita, adalah “pinjaman” dan “amanah”

Meski sadar bahwa roda kehidupan memang harus berputar, namun begitu cepatnya dan semakin sulitnya kita memprediksi future benar – benar membuat kita panik, kehilangan pegangan. Kematian Benazir Butto, banjir yang melanda kota – kota yang biasanya tidak kenal banjir, air pasang yang menyebabkan bisnis pariwisata sekitar Kuta terpuruk, global warming dan belum lagi ramalan – ramalan mengenai semakin “edan”-nya dunia di masa mendatang benar – benar membuat kita galau. Bagi saya, kata “change” yang dikumandangkan para ahli manajemen dan futuris mulai terdengar basi. Baru saja merencanakan action, perubahan, lapangan dan pasar seakan belut, licin dan sudah berubah lagi. Tak bisa menghindar, kita memang sudah beranggapan dengan hal – hal tak terduga.
Dalam situasi serba tak terprediksi, bahkan kekacauan yang mengerikan begini, bisakah dan bagaimanakah kita bisa bersikap positif pada dunia kehidupan kita ?

Be “Present”

Kata “present”, berarti “hadiah” dan juga berarti “saat ini”. Seorang ahli time management mengatakan bahwa “being present” ( keberadaan kita saat ini ) adalah “present” ( hadiah ) terbesar dalam hidup kita. “Being present” berarti realistis dan sadar apa yang ada di hadapan kita, menghargai dan memanfaatkan semua resources yang kita miliki. Being present atau “live your life”, adalah nasihat Richard Branson, pemilik Virgin Group pada putra – putrinya ketika ia tengah menghadapi maut, agar mereka menghayati betul kehidupan yang tengah dilalui sekarang, tidak menyesali masa lalu dan tidak kuatir akan masa depan. Tidak pelak lagi, inilah pilihan sikap yang paling sehat dalam menghadapi hidup ini.

Memiliki sikap “being present” memang mudah dikatakan, tetapi tidak mudah dilakukan. Berapa sering pikiran kita melayang dan tidak konsen bila sedang rapat, mengikuti pelatihan, menghadapi klien bahkan menghadapi anak sendiri ? Kita sangat sadar bahwa orang yang paling penting adalah orang dihadapan kita, tetapi berapa sering kita menerima panggilan telepon genggam ketika menghadapi orang secara bertatap muka ? Rasanya kita memang masih bisa lebih menghargai momen – momen yang sebenarnya sudh diberikan kepada kita dan lebih memanfaatkan sebaik –sebaiknya.

Kita dibutuhkan oleh Orang lain

Teman saya yang bermukim di Inggris, tiba – tiba mencari pekerjaan di Indonesia. Ketika saya tanyakan alasannya, ia berkata bahwa ia menemani ibunya, yang semakin meningkat percepatan “layu”-nya sepeninggal ayahnya. Keluarga, teman yang bahkan sudah lebih dekat daripada anggota keluarga, kolega yang bersusah – senang bersama kita adalah ‘kekuatan” bahkan “mistik” tersendiri yang membuat kita bisa lebih kokoh berdiri menghadapi kekacauan, badai serta cobaan. Kita sebenarnya bisa menghitung betapa beruntungnya kita bila masih ada teman, kakak, adik, suami, istri, anak atau tetangga yang bisa kita ajak merapatkan barisan ataupun “holding hands” di kala gundah. Sebaliknya kesadaran bahwa kita bisa memberi support mental kepada anggota keluarga lain, saudara, teman, tetangga, akan membuat kita mendapatkan kekuatan dan semangat menolong dobel karena keyakinan bahwa kita dibutuhkan.

Niat Baik adalah Fondasi

Dalam suatu pertemuan, saya mengajak para peserta yang hadir untuk mengungkap misi dan niat utama dalam bekerja dan dalam hidupnya.
Saya cukup terkejut karena ternyata sangat sedikit yang bisa dengan lantang menyebutkan niatnya. Entah karena malu, jarang melakukan introspeksi diri atau sekedar tidak ingin terbuka. Yang jelas, bila niat kita tidak terbaca, tidak jelas atau tidak dimengerti, maka gerak dan langkah kita pasti juga tidak jelas dan mengambang.
Niat seperti “ Saya ingin belajar terus sampai usia 70 tahun”, “Saya ingin anak buah saya sukses”, Saya ingin jadi orang tua yang baik, ketimbang jadi profesional yang sukses”, atau “Saya ingin berwirausaha bila tabungan saya cukup”, sebenarnya tidak perlu disembunyikan atau ditutup – tutupi. Asalkan niat kita lantang, lurus, bersih, dan tidak diwarnai dengan “vested interest” maka biasanya kita akan punya pengikut, mendapatkan kawan seperjuangan, bahkan bisa melihat persamaan arah dengan orang lain, perusahaan bahkan negara. Niat yang baik dan kuat bisa menjadi fondasi kita agar tetap berdiri bagai batu karang dalam hempasan ombak. Apalagi kalau kita betul – betul berniat untuk mencerdaskan, membersihkan dan membela lingkungan apalagi bangsa.

Jatuh, bangun, terpuruk, sukses, akan selalu kita alami sepanjang perjalanan hidup kita. Tapi masih ingatkah anda film getir Life is Beautiful ( La Vita é Bella ) karya sutradara dan aktor kondang Roberto Benigni ? kalau dalam keadaan terjepit, hampir terbunuh begitu, ia masih bisa melihat indahnya kehidupan, kita pun pastinya bisa menghadapi kompleksitas situasi dunia kita dengan sikap yang lebih optimis dan menghayati betapa berharganya hidup ini.

Just open your eyes and see that life is beautiful ( Roberto Benigni )


Friday, July 12, 2013

Jodoh dan Kualitas Diri


Seorang gadis mengirim surat ke sebuah majalah terkenal.Isinya sebagai berikut :Saya wanita berumur 25 tahun. Sangat cantik dan punya selera fashion yang bagus. Saya inginmenikah dengan pria yang berpenghasilan minimal 500 ribu dollar per tahun. Anda mungkin berpikir saya matre, tetapi syarat yang saya ajukan tersebut sebenarnya wajar. Adakah diantara pembaca berpenghasilan minimum 500 ribu dollar ingin menikahiku? Dengan kerendahan hati, saya ingin menanyakan dimana saya bisa bertemu pria lajang kaya seperti Anda? Syarat apa yang harus saya penuhi untuk menikahi orang kaya seperti Anda? Kenapa kebanyakan istri orang-orang kaya hanya berpenampilan biasa? Saya pernah bertemu dengan beberapa wanita yang memiliki penampilan “tidak menarik”, tetapi mereka justru mendapatkan pria kaya. Bagaimana cara Anda, para pria kaya mengambil keputusan siapa yang kelak menjadi istri? Saya pastikan kepada anda bahwa saya sangat cantik. ( Tertanda : si Cantik ) Lalu dibawah ini adalah balasan dari seorang pria kaya yang bekerja di Perusahaan Finansial Wall Street : Saya sangat bersemangat saat membaca surat Anda. Saya rasa banyak gadis di luar sana yang punya pertanyaan sama dengan Anda. Ijinkan saya untuk menganalisa situasi yang anda alami dari sudut pandang seorang profesional. Menurut saya, jika dipandang dari sisi bisnis, menikahi anda adalah sebuah keputusan yang salah. Kenapa? Jawabannya sebenarnya mudah, saya menarik kesimpulan bahwa Anda telah menempatkan “kecantikan” dan “uang” sebagai dua hal yang sederajat. Itu tersirat dari pernyataan Anda yang mencoba menukar kecantikan Anda dengan kekayaan. Pihak A menyediakan kecantikan dan untuk itu pihak B akan membayar dengan kekayaannya. Dan itu adalah HAL YANG MASUK AKAL. Akan tetapi ada masalah besar di sini, yaitu kelak kecantikan Anda akan hilang bukan? Dan sebaliknya, penghasilan saya mungkin akan meningkat dari tahun ke tahun. Jika dipandang dari sudut ekonomi, saya adalah asset positif yang selalu meningkat sedangkan Anda adalah asset negative yang nilainya selalu menyusut dari waktu ke waktu. Dan asset Anda itu akan sangat mengkhawatirkan dalam 10 tahun mendatang. Pria dengan penghasilan 500 ribu dollar per tahun pasti bukanlah pria bodoh. Mereka akan mencari teman hidup yang bernilai. Saya menyarankan agar anda melupakan saja ide untuk menikahi pria kaya dengan “menjual” kecantikan anda. Lebih baik tingkatkan kualitas diri anda yaitu Ketrampilan, Kesopanan, tingkah laku dan bahkan mungkin saja penghasilan yang besar sehingga orang layak “membeli” anda seharga 500 ribu dollar per tahun. Hal ini pasti lebih bagus untuk menemukan pria kaya daripada sekedar “menjual” kecantikan anda. Mudah2xan balasan ini dapat membantu ( Tertanda : Pria Kaya ) 

Sumber : Majalah Nurul Hayat edisi April 2011 
Gambar : diupload dari situs Pam's Clipart


Thursday, July 11, 2013

Pygmalion = berpikiran positif


( gambar diambil dari situs semuaunik.info )

Thanks to seorang teman FB, Oyi Priyo yang mengijinkan saya share tentang artikel bagus ini di blog saya

Pygmalion dikenal sebagai orang yang suka berpikiran positif. Ia memandang segala sesuatu dari sudut yang baik. Apabila lapangan di tengah kota becek, orang-orang mengomel. Tetapi Pygmalion berkata, “Untunglah, lapangan yang lain tidak sebecek ini.” Ketika ada seorang pembeli patung ngotot menawar-nawar harga, kawan-kawan Pygmalion berbisik, “Kikir betul orang itu.” Tetapi Pygmalion berkata, “Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk urusan lain yang lebih perlu”. Ketika anak-anak mencuri apel dikebunnya, Pygmalion tidak mengumpat. Ia malah merasa iba, “Kasihan, anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan makanan yang cukup di rumahnya.”

Itulah pola pandang Pygmalion. Ia tidak melihat suatu keadaan dari segi buruk, melainkan justru dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain; sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik dibalik perbuatan buruk orang lain.

Pada suatu hari Pygmalion mengukir sebuah patung wanita dari kayu yang sangat halus. Patung itu berukuran manusia sungguhan. Ketika sudah rampung, patung itu tampak seperti manusia betul. Wajah patung itu tersenyum manis menawan, tubuhnya elok menarik.

Kawan-kawan Pygmalion berkata, “Ah,sebagus- bagusnya patung, itu cuma patung, bukan isterimu.”

Tetapi Pygmalion memperlakukan patung itu sebagai manusia betul. Berkali-kali patung itu ditatapnya dan dielusnya.

Para dewa yang ada di Gunung Olympus memperhatikan dan menghargai sikap Pygmalion, lalu mereka memutuskan untuk memberi anugerah kepada Pygmalion, yaitu mengubah patung itu menjadi manusia betul. Begitulah, Pygmalion hidup berbahagia dengan isterinya itu yang konon adalah wanita tercantik di seluruh negeri Yunani. Nama Pygmalion dikenang hingga kini untuk mengambarkan dampak pola berpikir yang positif. Kalau kita berpikir positif tentang suatu keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya betul-betul menjadi positif. Misalnya, Jika kita bersikap ramah terhadap seseorang, maka orang itupun akan menjadi ramah terhadap kita.

Jika kita memperlakukan anak kita sebagai anak yang cerdas, akhirnya dia betul-betul menjadi cerdas.

Jika kita yakin bahwa upaya kita akan berhasil, besar sekali kemungkinan upaya dapat merupakan separuh keberhasilan.

Dampak pola berpikir positif itu disebut dampak Pygmalion. Pikiran kita memang seringkali mempunyai dampak fulfilling prophecy atau ramalan tergenapi, baik positif maupun negatif. Kalau kita menganggap tetangga kita judes sehingga kita tidak mau bergaul dengan dia, maka akhirnya dia betul-betul menjadi judes. Kalau kita mencurigai dan menganggap anak kita tidak jujur, akhirnya ia betul-betul menjadi tidak jujur.

Kalau kita sudah putus asa dan merasa tidak sanggup pada awal suatu usaha, besar sekali kemungkinannya kita betul-betul akan gagal.

Pola pikir Pygmalion adalah berpikir, menduga dan berharap hanya yang baik tentang suatu keadaan atau seseorang. Bayangkan, bagaimana besar dampaknya bila kita berpola pikir positif seperti itu. Kita tidak akan berprasangka buruk tentang orang lain. Kita tidak menggunjingkan desas-desus yang jelek tentang orang lain. Kita tidak menduga-duga yang jahat tentang orang lain.

Kalau kita berpikir buruk tentang orang lain, selalu ada saja bahan untuk menduga hal-hal yang buruk. Jika ada seorang kawan memberi hadiah kepada kita, jelas itu adalah perbuatan baik. Tetapi jika kita berpikir buruk,kita akan menjadi curiga, “Barangkali ia sedang mencoba membujuk,” atau kita mengomel, “Ah, hadiahnya cuma barang murah.” Yang rugi dari pola pikir seperti itu adalah diri kita sendiri.Kita menjadi mudah curiga. Kita menjadi tidak bahagia. Sebaliknya, kalau kita berpikir positif, kita akan menikmati hadiah itu dengan rasa gembira dan syukur, “Ia begitu murah hati. Walaupun ia sibuk, ia ingat untuk memberi kepada kita.”

Warna hidup memang tergantung dari warna kaca mata yang kita pakai. Kalau kita memakai kaca mata kelabu, segala sesuatu akan tampak kelabu. Hidup menjadi kelabu dan suram. Tetapi kalau kita memakai kaca mata yang terang, segala sesuatu akan tampak cerah. Kaca mata yang berprasangka atau benci akan menjadikan hidup kita penuh rasa curiga dan dendam. Tetapi kaca mata yang damai akan menjadikan hidup kita damai.

Hidup akan menjadi baik kalau kita memandangnya dari segi yang baik. Berpikir baik tentang diri sendiri. Berpikir baik tentang orang lain. Berpikir baik tentang keadaan. Berpikir baik tentang Tuhan. Dampak berpikir baik seperti itu akan kita rasakan. Keluarga menjadi hangat. Kawan menjadi bisa dipercaya. Tetangga menjadi akrab. Pekerjaan menjadi menyenangkan. Dunia menjadi ramah. Hidup menjadi indah. Seperti Pygmalion, begitulah.

MAKE SURE YOU ARE PYGMALION and the world will be filled with positive people only…….. ….how nice!!!!

DIKUTIP DARI CERITA SEORANG TEMAN UTK DICERITAKAN KE TEMAN YANG LAINNYA