Saturday, June 3, 2017

#Day21, Berpakaian tapi kok telanjang?

Akhir-akhir ini aku merasa resah. Bukan karena pekerjaan kantor yang menumpuk yang terpaksa membuatku pulang malam. Itu sudah biasa. Namun beberapa malam ini ada yang berbeda.
Setiap kali aku keluar dari halaman kantor, aku merasa ada yang mengikuti. Dari balik kaca spion aku melihat seorang pria mengendarai motor besar mengikutiku.

Insting membuatku berbelok mencari jalan besar yang ramai. Biasanya setiap pulang kantor aku memilih jalan pintas agar lebih cepat dan menghindari macet. Namun jalan pintas tersebut harus melewati perkebunan tebu. Sepanjang jalan kiri kanan hanyalah tanaman tebu yang mulai merimbun. Penerangan jalan pun remang-remang.

Hal ini kuceritakan pada sahabatku, Reina keesokan harinya.

“Mungkin ada baiknya kamu kurangi pulang malam, kalau memang bisa bawa pulang kerjaan dan dikerjakan di rumah”, saran Reina.

“Tapi aku lebih suka mengerjakan di kantor, segala fasilitas ada, internet dan network files yang sangat aku butuhkan”.

“Semalam kamu pulang jam berapa ?”, tanya Reina lagi.

“Masih jam 8 sih,”jawabku.

“Sepertinya pria itu tahu sekali jam pulang ngantormu, coba usahakan pulang lebih sore, mungkin pria itu belum ada di pinggir jalan”.

Aku mematuhi saran Reina. Jam 5.30 sore aku pulang kantor dan pria itu memang tidak ada mengikutiku lagi. 

Namun beberapa hari kemudian aku harus terpaksa pulang malam lagi.

Pria itu muncul lagi, batinku saat melirik ke kaca spion. Sebenarnya aku bisa saja berhenti dan berteriak minta tolong namun aku takut. Lagi pula pria itu belum tentu berniat jahat.

Aku lalu menghentikan motorku di sebuah kedai kopi. Lalu memesan dan duduk di lantai 2. Pemandangan malam yang mengesankan, dek kafe yang terbuka membuatku dapat melihat bintang dan bulan. Sepoi angin membelai rambutku.

Tak di duga, pria tersebut juga masuk ke kedai dan memilih tempat duduk tak jauh dariku. Aku dapat memandang wajahnya dengan jelas yang sebelumnya tertutup helm teropong.

Ketika aku sedang memandang wajahnya, pria yang sebelumnya sibuk dengan gadgetnya mendongakkan kepala dan melihatku. Lalu tersenyum.

Paginya, aku cerita pada Reina. Dia mendengarkannya dengan tenang.

“Dan kamu masih pakai rok pendek dan baju press body?”, tanya Reina. Aku tertunduk

“Runa, salah satu fungsi pakaian adalah untuk menutup aurat,bila auratmu tertutup sempurna insyaallah, Allah akan melindungimu dari bahaya, seperti menarik perhatian lawan jenis yang ingin berbuat jahat denganmu”.

Rasulullah pernah bersabda dalam salah satu hadistnya :

Setiap wanita yang menanggalkan pakaiannya di luar rumah, maka Allah akan merobek tirai pelindungnya (HR Ahmad)

Aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Karena itu wajib hukumnya bagi wanita mengikuti syariat dengan mengenakan pakaian tertutup meski sedang bekerja.

Reina adalah salah seorang teman kerjaku yang telah mengenakan hijab. Sejauh ini atasan tidak pernah mempermasalahkan. Reina menunjukkan produktifitas dan efisiensi kerja bahkan diatas rata-rata kebanyakan pekerja.

“Usahakan memakai pakaian panjang dan tidak ketat, Runa”.

“Bila masih belum bisa mengenakan hijab lebar, setidaknya kulot lebar atau berbahan jeans yang lembut dan longgar dan tidak membentuk siluet tubuh”, tambahnya lagi.

Rasulullah SAW juga  bersabda :

“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum pernah aku melihat keduanya, kaum yang membawa cemeti seperti seekor sapi untuk mencambuk manusia dan perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang, cenderung kepada kemaksiatan dan membuat orang lain juga cenderung kepada kemaksiatan. Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk onta yang berlenggak-lenggok. Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium bau wanginya. Padahal bau wangi surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian waktu (jarak jauh sekali).” (HR Muslim).

“Berpakaian tetapi seperti telanjang?, Apa maksudnya, Rei?”.

Reina menjelaskan, kalau pakaiannya ketat membentuk tubuh lalu apa yang ditutupinya ? Dada, pinggul dan lain-lain menonjol. Lalu memakai pakaian panjang namun menerawang tipis memperlihatkan lekuk tubuh, terus apa yang mau ditutup coba?

“Iya juga sih”.

Lalu memakai pakaian panjang, tidak menerawang dan tidak tipis namun bau parfumnya bisa tercium hingga beberapa meter? Padahal bau parfum yang harum memberikan efek menyenangkan otak yang akhirnya dapat membuat laki-laki bukan mahram yang menciumnya akan tertarik pada si pemakai parfum bahkan membayangkan hal-hal yang mendekati zina.

Seperti yang dipaparkan oleh ahli syaraf dr. Fritz Sumantri Usman Sp.S, FINS

"Jadi kalau kita mencium wewangian yang masuk ke dalam hidung, itu diteruskan ke ujung syaraf untuk menangkap rangsangan yang dikaitkan ke amygdala untuk menangkap fungsi penciuman. Amygdala ini adalah bagian dari otak yang berhubungan dengan emosi dan memori,"  

Dokter ahli tersebut juga mengatakan bahwa wewangian dengan aroma harum terbukti dapat menimbulkan kesan pada seseorang. Meskipun  jika tidak ada keterikatan dengan seseorang atau momen tertentu, akan sulit untuk mengasosiasikannya, namun kita tidak pernah tahu orang yang mencium bau wangi kita memang pernah punya kenangan atau keinginan terhadap kita. 

Ada baiknya tetap dihindari menggunakan wewangian yang baunya menyengat. Minimal bau wangi tersebut hanya kita yang dapat membauinya atau seseorang yang berada di dekat kita saja.

Aku mengangguk mengerti. Jadi selama ini aku sudah berpakaian namun telanjang? Hiyy ngeri.

#Day20, Bantu sahabatmu berhijab

Masa SMA adalah masa paling indah. Kita mulai beranjak dewasa dan kadang saling menyukai lawan jenis. Masa pribadi mulai bertumbuh menuju dewasa melalui proses yang kadang tak mudah.
Kita mulai mencari jati diri, siapa saya dan mau jadi apa nanti ? Gaya berbicara dan berpakaian mulai berubah, mulai memperhatikan penampilan diri, bahkan jerawat sebijipun dapat membuat hati galau berhari-hari.

Demikian pula denganku, yang pada masa masa awal SMA sangat menyukai olah raga basket dan berteman dengan mayoritas laki-laki. Tidak ada perasaan istimewa, kami bermain bersama, ngobrol di pinggir lapangan atau main ke alun-alun kota. 

Menginjak kelas berikutnya, kami mulai berubah. Satu persatu sahabatku berhijab dan menjaga batas pergaulan dengan teman laki-laki. Aku masih sama, si tomboy dengan gaya dandanan seperti laki-laki, kaos lengan pendek kadang press body, kemeja dan jeans lengkap dengan sepatu kets adalah keseharianku. Meski rok SMA ku tak sependek yang lain.

Fida, salah seorang sahabatku mengajakku ikut kajian. Kebetulan hari minggu pagi aku  sedang kosong tidak acara main setelah jogging. Maka sesudah mandi dan berpakaian, aku memakai kerudung dan mengikuti kajian bersama Fida.

Saat di musholla sekolah, aku terkesima, hampir semuanya memakai jilbab dan rok panjang. Hanya ada beberapa yang memakai jeans dan kemeja lengan panjang serta kerudung ala kadarnya sepertiku. Pashmina  yang kukenakan pun kupinjam dari nenek.

Kajian itu membahas tentang salah satu istri Rasulullah SAW yang cerdas dan cantik, Aisyah ra. Lalu seorang ustadzah dengan gamis dan baju lebar berkata bahwa Aisyah ra meski pintar namun tetap menutup auratnya, berbicara dengan hijab membatasi antara dirinya dan penanya laki-laki.
Aku bergetar, apalagi saat sebuah ayat di bacakan :

Wahai Nabi,! katakanlah kepada istri-isttrimu , anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka .” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun Maha Penyayang”. (QS Al Ahzab ayat 59)

Sesi tanya jawab pun digelar, salah seorang teman dari kelas lain bertanya yang kebetulan juga berkostum sama denganku.

“Ukhti,” sapanya pada ustadzah muda itu,” Meski tidak berjilbab namun tetap sholat dan berpuasa serta berbuat baik tidak apa-apa kan? Yang penting hatinya”.

Ustadzah muda itu tersenyum lembut lalu menjawab,

“Ukti, hukumnya sholat dan puasa Ramadhan apa?”.

“Wajib Ukhti”.

“Lalu kalau kamu meninggalkan sholat dan puasa, hukumannya apa?”.

“Dosa ukhti”.

“Tadi saya katakan hukumnya pakai jilbab apa, ukti ?”

“Wajib, ukhti”.

“Jadi, kalau sholat dan puasa ramadhan hukumnya wajib dan bila ditinggalkan berdosa, lalu bagaimana dengan mereka yang tidak menutup auratnya sesuai syari`at?”

“Dosa, ukhti”, jawabnya sambil menundukkan kepala.

“Tapi saya belum bisa berjilbab sekarang”. Katanya lagi

Ustadzah tersenyum, “Tidak apa-apa, mulailah dengan memakai pakaian panjang dan longgar. Sebagaimana anak-anak kecil yang belajar bacaan sholat dan berlatih puasa, kita lakukan dulu proses berjilbabnya pelan-pelan”.

Acara pengajian ditutup dengan saling berpelukan, berjabat tangan dan saling mendoakan semoga yang ingin berhijab dimudahkan.

Beberapa minggu kemudian aku mengutarakan niatku untuk berhijab kepada sahabatku Fida. Ia menyambutnya dengan gembira. Masalahnya, aku tak ada uang untuk membeli hijab dan seragam sekolah panjang. 

Tak disangka,Fida dan teman-teman pengajian bersama lulusan SMA kami yang berhijab mengumpulkam seragam sekolah bekas layak pakai untuk diberikan kepada saya dan beberapa teman yang ingin berhijab namun tak punya cukup biaya. Alhamdulillah akhirnya saya dan beberapa teman perempuan mulai berhijab atas bantuan Fida dan kakak kelas. 

Ini kemudian menjadi acara tahunan dengan mengumpulkan jilbab, pashmina, gamis dan rok panjang bekas namun layak pakai untuk membantu teman-teman yang membutuhkan.

Alhamdulillah, makin banyak teman perempuan yang memakai jilbab dan menjaga pergaulannya.
Semoga ini menjadi amal jariyah yang tak akan terputus.

#Day19, DILEMA 2

Jam sudah menunjukkan pukul 6.30 pagi, saya sudah akan bersiap-siap berangkat bekerja, demikian juga suami dan anak pun sudah siap berangkat sekolah. Saya mengantarnya setiap pagi lalu lanjut perjalanan ke tempat kerja yang kebetulan hanya 10 menit naik motor dari sekolah anak. Tiba-tiba ada telepon masuk, dari pengasuh anak saya.

“Assalamu’alaikum, Bu,” sapa suara dari seberang.

“Wa’alaikumsalam,” jawab saya.

“Maaf saya hari ini tidak bisa datang karena ada keperluan keluarga”.

Saya terdiam sejenak, lalu menjawab,”Baiklah kalau begitu, tidak apa-apa. Tapi besok bisa datang ?”
“Bisa, Bu”, jawabnya.

Klik, telepon pun ditutup. Melihat wajah saya suami sudah menduga pasti pengasuh tidak bisa datang.

“Kalau begitu kamu bolos kerja ?”.

“Sebentar aku pikir dulu,”kataku.

“Aku ke kampus agak siang, mungkin bisa kubawa Awan ke kampus tapi mungkin pulang malam karena ada jam kuliah malam”, kata suami.

“Oke, begini saja, nanti Awan sepulang sekolah ikut ke kampus, lalu aku pulang kerja menjemputnya, sampai kampus sekitar jam 18.30, kuliah malam mulai jam 18.00 kan?. Awan bisa tunggu di kantor dosen, ada penjaga kan?”.

Kebetulan penjaga fakultas sudah mengenal anak saya yang sering diajak ke kampus oleh ayahnya.
Maka pagi itu kami membuat kesepakatan membagi waktu mengasuh anak karena kami sama-sama bekerja. Tidak mudah, karena jadwal kerja yang berlainan.

Tengah hari, si pengasuh menelepon lagi kemungkinan besok tidak bisa datang. Saya pun cuma bisa mengiyakan dan memaklumi. Setelah itu saya segera menghubungi suami via WA apakah besok masih bisa masuk agak siang, karena saya terpaksa harus ijin atasan agar dapat bekerja setengah hari.

“Besok aku ada kuliah siang”, jawab suami,”Jadi aku harus berangkat jam 11 karena kuliahnya jam 1 siang”.

Sejenak saya pun berpikir, anak pulang jam 10, tiba di rumah jam 11 karena mobil jemputan muter-muter dulu mengantar anak lain.

“Nanti Awan gimana kalau aku tinggal sendiri di rumah? Kamu ijin kantor bisa sampai rumah jam berapa?”.

“Aku kemungkinan baru sampai rumah jam 12 siang, Awan setengah jam saja menunggu sendiri di rumah mungkin tidak apa-apa. Ada tetangga yang bisa aku minta tolong mengawasinya sebentar”.

Deal. Suamipun mengijinkan. Sekarang tinggal 1 masalah, ijin atasan. Pekerjaan sedang menumpuk, dan sebelum menghadap atasan, saya bertanya kepada supervisor apakah saya bisa meminta bantuannya besok  mengerjakan beberapa pekerjaan saya sementara sisanya bisa saya lakukan di rumah. Alhamdulillah dia menyanggupi, maka saya pun menghadap atasan.

“Selamat siang pak, bisa minta waktunya sebentar?”, saya mengetuk pintu ruangan atasan yang saat itu sedang menghadap komputer.

“Ok, silahkan masuk”, jawabnya, tanpa memalingkan wajahnya dari komputer, pasti sedang membaca email atau report penting. Saya duduk di kursi yang menghadap mejanya. 

“Mohon maaf, besok saya ijin masuk setengah hari karena pengasuh anak saya tidak dapat masuk dan saya harus berbagi waktu dengan suami bergantian menjaga anak”.

Atasan saya berkata, “Memangnya tidak ada yang bisa dimintai tolong untuk menjaga anakmu ? orang tua, kerabat?”.

“Tidak ada pak, kedua orang tua saya sudah meninggal, sedangkan orang tua suami ada di Jakarta dan tidak dapat datang karena kesehatan kurang baik, kerabat saya kebetulan juga sedang tidak bisa membantu karena mereka juga bekerja”.

“Oke, lalu bagaimana dengan pekerjaanmu?”, tanyanya lagi.

“Saya mendelegasikan beberapa pekerjaan kepada supervisor saya dan sisanya untuk reporting bisa saya kerjakan di rumah dan sorenya bisa saya kirim via email ke unit lain”.

“Saya memberikan project ini karena saya yakin kamu mampu mengerjakannya, salah satu diantaranya kamu hadir di sini untuk memastikan segalanya berjalan dengan baik. Kamu koordinatornya,paham kan?”.

“Saya tahu pak, tapi saya mohon maaf karena tidak bisa meninggalkan anak saya sendirian di rumah. Lagipula saya sudah berbagi waktu dengan suami, kemarin. Anak adalah tanggung jawab saya sebagai ibu, karena itu saya memohon kebijaksanaan bapak”.

Atasan saya diam.

“Lalu bagaimana dengan project ini”, tanyanya lagi.

“Saya sudah menyelesaikan laporan berupa timeline kepada bapak, hanya ada beberapa hal yang perlu disempurnakan dan bisa saya kerjakan di rumah. Saya dapat menerima dan mengirim email dari rumah.”

Atasannya saya lalu menghadap komputer,”Saya mungkin belum membacanya, sebentar”. Dia lalu membuka email dari saya membuka attachment dan membacanya dengan seksama. Lalu tersenyum dna menghadap saya.

“Kamu sudah menyelesaikan separuhnya, dan sepertinya berjalan dengan baik walau banyak hal yang harus kamu lakukan. Baiklah kamu saya ijinkan tidak masuk, namun pastikan kamu tetap berkoordinasi dengan unit lainnya”.

“Terima kasih, pak”. Saya pun lega.

Satu masalah terselesaikan.

Maka keesokan harinya saya mengerjakan pekerjaan di rumah sementara anak menggambar dan bermain, Katanya, “Aku suka mama di rumah”. 

Saya pun tersenyum, kadang merasa sedih meninggalkannya di rumah bersama pengasuh. Hari ini saya bisa bermain dengannya meski harus sambil mengerjakan pekerjaan kantor di rumah. 

Menjawabi telepon dari atasan yang bertanya tentang beberapa hal atau menjawab WA message teman yang saya mintai bantuan mengerjakan beberapa pekerjaan.

Kadang saya membawa pekerjaan pulang, sambil mengajari anak mengerjakan pe-er. Suami pun protes, mengapa setelah 9 jam bekerja saya masih juga mengerjakan pekerjaan kantor di rumah. 
Saya berkata,” Aku lebih suka pulang tepat waktu lalu mengerjakannya di rumah sambil bermain bersama anak daripada kerja lembur hingga malam di kantor”.

Setelah makan malam dan ngobrol sebentar dengan suami, maka saya pun bersiap “ngantor” di rumah.

Saya katakan kepada anak, “Liat nih, mama juga punya pe-er kayak kamu, kita kerjakan bareng, yuk”.

Maka letak meja belajar anak saya letakkan berdekatan dengan “meja kerja” saya di rumah. Saya membuka laptop, menyiapkan berkas-berkas, sedangkan anak sudah siap dengan buku dan pe-ernya.

“Mama, ini sulit, tolong ajarkan”, katanya saat saya sedang menekuni berkas kerja. Maka saya pun meletakkan berkas dan mengajarinya hingga paham.

“Kerjakan dulu ya, nanti mama lihat lagi”. Saya pun mengajarinya untuk mandiri belajar walau masih tetap harus ditemani. Sesekali saya mengkoreksinya dan memujinya bila berhasil menyelesaikan pe-ernya sendiri dengan benar.

Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 saat anak saya selesai mengerjakan pe-ernya, setelah menungguinya sebentar menyiapkan buku pelajaran untuk besok, maka saya menemaninya tidur. Pekerjaan kantor kembali saya selesaikan setelah semuanya tidur. Tak jarang hingga pukul 12 malam baru selesai. Atau bila terlalu lelah saya pun tidur dan bangun sekitar jam 3 pagi hingga subuh menyelesaikan pekerjaan. Subuh hingga pagi mempersiapkan sarapan untuk anak dan suami lalu berangkat kerja sambil mengantar anak ke sekolah.

Yang menyedihkan, saat anak sakit dan saya tak tega meninggalkannya di rumah hanya bersama pengasuh. Saya mencoba untuk tetap berangkat bekerja, namun fikiran tidak dapat fokus, tidak hanya karena anak sakit namun juga karena kurang istirahat, hanya sempat tidur 3 jam saja karena tengah malam anak tiba-tiba demam. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak masuk kerja keesokan harinya. Beruntung atasan saya dapat memaklumi.

Maka hari itupun saya menemani anak tidur di rumah, badannya masih panas dan susah makan. Setelah memaksanya minum obat akhirnya panasnya menurun dan dapat tidur. Siang itu saya kembali mengerjakan pekerjaan di rumah dan karena merasa kelelahan hingga tertidur di meja kerja dengan laptop menyala. Terbangun oleh adzan magrib dan suara motor suami yang baru sampai. 

Ya Allah, semoga saya kuat menjalaninya, hingga tiba waktunya saya berhenti bekerja dan fokus mengurus anak dan suami. Semoga pekerjaan ini dapat menjadi ladang pahala meski saya bukan ibu rumah tangga yang sempurna.

#Day18 Cerpen, Assalamu’alaikum Tokyo #1

Ken, Tokyo 2004, dini hari
Dear sahabatku, Kei
Masihkah kamu setia dengan mimpi-mimpimu disana? Semoga kamu tetap menjaganya seperti halnya aku disini. Kita pernah punya impian yang menurut orang lain tak mungkin tercapai, namun Tuhan Maha Tahu yang terbaik untuk hamba-hambaNya yang setia dalam iman. Karena itu kita selalu yakin, apapun keputusanNya. Impian adalah doa-doamu dan itulah wujud imanmu.
Ken.

Selesai membalas email Kei, sahabatnya, Ken tersenyum lalu memandangi “The Big Book” masa kecilnya. Bila sedang berada jauh dari tanah air seperti ini, hanya buku ini yang bisa mengobati kerinduannya. Buku itu sebenarnya adalah kumpulan tulisan masa kecilnya bersama keempat kawannya yang lain. Mereka membuat buku itu dari  kertas bekas pembungkus semen lalu menjilidnya. Awalnya hanya disatukan dengan paper clips besar, namun Ken ingin tulisan itu tetap abadi walau mereka telah beranjak dewasa, sehingga sebelum berangkat ke Tokyo untuk melanjutkan pendidikan S2nya, dia menjilidnya menjadi 2 buah buku berisi petualangan mereka. Di masa itu, mereka menyebut diri mereka Lima Sekawan.

Keempat kawan-kawannya adalah Frei yang doyan sekali membaca koran dan majalah sejak anak-anak serta menggambar. Dia suka menulis opini tentang berita yang baru dia baca. Joe juga suka menggambar, Karena ulah Frei dan Joe, buku besar itu tak pernah sepi dari gambar ilustrasi. Juned, suka melakukan eksperimen bersama Ken yang pintar matematika. Ide-ide tak lazim Juned sering bertabrakan dengan hitung-hitungan yang Ken buat. Di buku itu Ken menulis rumus-rumus matematika yang lebih mudah dan cepat untuk menemukan jawaban dari soal-soal matematika daripada rumus yang diajarkan guru di sekolah. Dan yang terakhir adalah tulisan-tulisan Kei. Dia satu-satunya anak perempuan dalam kelompoknya. Karena terobsesi dengan buku cerita Lima Sekawan yang dibacanya, Ken akhirnya meminta Kei bergabung bersama kelompoknya. Tugas Kei hanya mencatat karena tulisan tangan dia yang paling bagus dan rapi bila dibandingkan dengan keempat anak laki-laki itu. Selain itu Kei juga suka menulis cerita, ada saja yang dia ceritakan, tentang burung pipit, matahari pagi, senja dan hujan. Membaca cerita-ceritanya seperti membaca buku sastra di perpustakaan sekolah.

Kelimanya sangat kompak baik di sekolah ataupun ketika di rumah. Mereka selalu berkumpul di rumah Ken yang luas dengan kebun dan kolam ikan. Ada saja yang mereka kerjakan walau sedang tak ada pekerjaan sekolah. 

Hingga kini mereka masih saling berkirim email meski intensitasnya tak sebanyak dulu karena kesibukan masing-masing. 

Juned yang gila eksperimen kini menjadi tenaga medis di sebuah rumah sakit. Cita-citanya untuk menjadi peneliti telah membawanya kepada profesi yang membuatnya tak akan pernah berhenti meneliti. Pasien-pasiennya  adalah target penelitiannya dan untungnya mereka tidak pernah keberatan. 

Joe, setelah keluar dari pekerjaannya, memilih menjadi seniman, menyanyi dari satu kafe ke kafe berikutnya. Dulu Kei selalu meledeknya Joe lebih pantas jadi personel boyband ketimbang orang kantoran. 

Frei, memilih menjadi entrepreneur, membuka usaha sendiri dengan istrinya. Dan Kei, gadis kecil yang dulu dikenalnya sangat pemalu tapi sangat ingin menjadi Louis Lane, menghabiskan hari-harinya bekerja di sebuah perusahaan asing setelah lulus kuliah. 

Ken yang setelah tamat kuliah sempat bekerja menjadi konsultan akhirnya memilih melanjutkan S2 dan beruntung dia mendapatkan beasiswa.

Suatu sore Ken berkunjung ke rumah Kei dan berpamitan sebelum berangkat ke Jepang.
“Hai, Louis Lane  wanna be!”, gurau Ken. Sejak kecil Kei selalu mengumpulkan komik Superman dan tokoh yang paling disukainya adalah Louis Lane, jurnalis koran Daily Planet. 

“Minggu depan aku berangkat Kei”.

“Congrats ya Ken, tapi kayaknya ada yang lucu deh”, canda Kei.

“Seharusnya aku yang melanjutkan S2 ke Jepang karena aku lulusan dari fakultas sastra Jepang”.
“Jadi kenapa tidak kamu coba?”, tanya Ken.

Pandangan Kei menerawang,”Aku masih punya tanggung jawab untuk bekerja Ken. Kakakku mulai sakit-sakitan, sementara kedua orang tuaku dan nenek sudah tiada. Jadi mungkin untuk sementara kulupakan saja impianku keliling dunia dan menulis berita”.

“Aku selalu berdoa, kamu akan mencapainya suatu saat nanti, entah bagaimana caranya, tidak hanya bisa menulis dan tulisanmu dibaca orang, namun kamu bisa pergi ke tempat-tempat yang kamu inginkan”.

Jangan ceritakan mimpi-mimpimu kepada semua orang, karena kamu tak akan pernah tahu isi hati mereka. Mereka bisa saja mendoakanmu agar terkabul, sebagian lagi mungkin mentertawakanmu dalam hati dan yang menyedihkan ketika orang yang sangat kamu sayangi meragukan impianmu bisa menjadi nyata.

“Mungkin setelah ini kamu bisa menyusulku ke Jepang”, kata Ken mengagetkan Kei.Cuma Ken, satu-satunya orang yang selalu memberikan dorongan semangat.

“Bagaimana bisa?”, Tanya Kei

“Kei, Tuhan selalu punya cara yang tak pernah kita sangka saat mewujudkan apa yang kita impikan.” 
Dalam perjalananmu meraih impian yang kamu butuhkan hanya 3 hal, Tuhan, keteguhan hati melewati segala rintangan dan sahabat yang akan menemani dalam suka dan duka. 

Ken selalu mengiriminya email setelah berada di Jepang Cerita-ceritanya tentang Jepang, tentang 4 musim dengan pertanda alam yang saling berbeda dan sangat memukau membuatnya makin ingin mendekap erat impiannya.

“Ada banyak hal yang bisa kamu tulis di sini, Kei. Sumpah! Jurnal kita tak akan pernah cukup. Mungkin bisa dibuat cerita berseri hehehe”. 

Kerapkali Ken mengiriminya foto bunga sakura saat musim semi dari berbagai kota yang ia kunjungi, suasana pesta kembang api di malam musim panas, daun-daun maple dan tradisi melihat bulan di musim gugur, serta salju di musim dingin.

“Dan aku jadi ketularan suka menulis sepertimu. Ternyata asyik ya menulis itu?”.

Jawab Kei, “Tentu Ken, menulis itu lebih menyenangkan daripada berhitung, terutama buatku hahaha..”

Kei masih tekun bekerja, setiap weekend dia selalu mengisi waktunya dengan membaca atau menulis cerita. Meski naskahnya selalu mengalami penolakan namun Kei tetap menulis. 

Suatu saat ketika merasa jenuh Kei menerima ajakan seorang teman untuk bergabung dengan sebuah perusahaan multi level marketing yang menawarkan sejuta bonus dan kemudahan travelling berkeliling dunia. Namun itu membuatnya lelah, tidak hanya secara fisik, namun juga jiwa. Bukan..bukan ini yang kuinginkan. Perjalananan yang kuinginkan bukan perjalanan mewah yang didapat dari hasil kerja keras orang yang bergabung bersamanya. Lalu bila mereka yang berada di bawahku gagal, bagaimana aku bisa menebus kekecewaanya?

Ken mengetahuinya, namun Ken tak berbuat apapun. Biarkan Kei belajar, dia perlu melihat dunia. Bahkan ketika teman di multi level marketing itu perlahan meninggalkannya karena sudah tak sevisi dan tak menghasilkan poin seperti yang mereka harapkan, Ken hanya menulis email pendek.

Apapun yang kamu lakukan Kei, aku selalu percaya kamu akan melakukan yang terbaik, namun aku lebih suka kamu menulis saja ketimbang ikut kegiatan yang tak begitu jelas. Kau tahu Kei, ada harga yang harus dibayar untuk memperoleh kesuksesan, dimanapun dan apapun usahamu. Namun aku tetap tak ingin melihatmu memaksakan diri. Seseorang yang gagal di satu hal, belum tentu gagal mengerjakan lainnya. Karena itu tak seharusnya mereka menyalahkan keputusanmu untuk meraih impian-impianmu dengan cara yang tak sama dengan mereka. Tuhan selalu punya cara yang tak pernah bisa kita tebak. Sebagai sahabat, aku tak akan segan menarikmu kembali menuju jalurmu. Kembali lah menulis dan lupakan target-target yang membuatmu nyaris tak bisa tidur, nyaris kehilangan kegembiraanmu, nikmati pertemanan dengan tulus tanpa diembel-embeli mereka akan memberikan keuntungan untukmu. Aku menyukai ketulusanmu Kei..sahabatku sejak kecil yang tak pernah mudah menyerah.

Setahun setelah itu, setelah sebuah conference di kantornya, atasannya memanggilnya ke ruangan conference. Di sana duduk seorang manager dari Jepang yang sudah berumur dan tersenyum kepadanya. Kei membalasnya sambil membungkukkan badan. Dan yang membuatnya nyaris lemas adalah atasanya berkata “Kami akan mengirimmu belajar ke Jepang selama dua minggu”. Kei masih tak percaya, hingga manager itu mendekatinya dan menyentuh bahunya sambil berkata “,Kei, kamu akan ke Jepang bersama kami, enjoy it, nikmati suasana yang berbeda dan belajarlah dengan sebaik-baiknya.”

bersambung..

#Day17 Cerpen, Cinta yang menyembuhkan

Akhir-akhir ini bila tidak ada tugas yang dikerjakan untuk sekolah, Keisha jarang berkumpul bersama geng Lima Sekawannya. Sudah seminggu ini. Tiap kali Novem bertanya pada Keisha, gadis kecil berkepang dua itu hanya menjawab, ada yang harus kulakukan. Tapi Keisha tak pernah memberitahukan apa yang dilakukannya hingga tak datang ke rumahnya. Ayah, ibu Novem dan kedua kakak perempuannya juga bertanya mengapa gadis kecil itu tak pernah lagi main ke rumah, apakah mereka bertengkar? Tapi Novem hanya berkata tak tahu. Tapi dalam hati Novem berkata, aku akan mencari tahu.

Nenek Keisha menyapanya dengan ramah saat bertemu di pasar dekat sekolahan setiap pagi. Berarti beliau sehat-sehat saja. Kakak laki-laki Keisha bersekolah di sekolah yang sama dan bertemu dengannya tiap hari, berarti tidak ada masalah. Lalu kenapa Keisha seperti menghilang? Juned, Ferry dan Joe juga tak tahu kenapa. Keisha juga jarang tampak di perpustakaan, kalaupun sempat bertemu sebentar saat Keisha akan meminjam dan mengembalikan buku, setelah itu menghilang entah kemana.

Hari itu Novem membolak balik Big Book mereka bulan ini, isinya hanya beberapa rumus modifikasi miliknya, gambar milik Juned, beberapa catatan perjalanan Ferry dan Joe. Minus milik Keisha. Biasanya anak itu akan menulis cerita, lalu bergiliran Juned, Ferry atau Joe yang menggambarkan ilustrasinya. Ada satu cerita yang sangat Novem suka. Tentang suasana pasar malam yang Keisha temui di sebuah desa ketika neneknya mengajaknya berkunjung ke rumah salah satu kerabat mereka. Lalu Joe, Ferry dan Juned bergantian menggambar dengan detail apa yang diceritakan Keisha, komidi putar, penjual mainan, penjaja makanan kecil keliling, penjual gulali, warung-warung dan anak-anak yang berlarian gembira bersama orang tua mereka. Membaca cerita-cerita Keisha atau puisinya adalah kegembiraan tersendiri untuk Novem yang jarang sekali bisa berpergian jauh dan tak bisa bercerita seperti Keisha.

Sepulang sekolah, biasanya Keisha mampir ke halaman belakang sekolah hanya untuk mengambil bunga kamboja merah yang berjatuhan. Biasanya bunga itu diselipkan di buku hariannya sehingga mengeluarkan bau harum. Kakak laki-lakinya sering menggodanya, baunya seperti hantu perempuan dalam film horror, tapi Keisha hanya tertawa. Beberapa kuntum bunga itu akan di tebar dimakam almarhum ibunya yang hampir setiap sore dia kunjungi.

Suatu siang, setibanya di halaman belakang sekolah yang sepi, Keisha menemukan seorang anak laki-laki membungkuk di depan pohon dan beberapa tetes darah nampak menetes membasahi tanah. Segera Keisha berlari menuju anak laki-laki itu dan alangkah terkejutnya ketika melihat anak itu menyilet jemari tangannya sendiri.

‘Gio! Hentikan!...”. Keisha berusaha merebut silet tipis yang biasa digunakan untuk bercukur orang dewasa.

“Biar saja, kata Gio”, mencoba mengelak. Detik berikutnya Keisha berhasil merebut silet itu dan membuangnya. Dikeluarkannya sapu tangan putih berbunga dari dalam tasnya dan dibalutkannya di jemari kiri Gio.

Anak laki-laki itu diam saja. Tak  ada air mata, hanya meringis kesakitan. Darah merembes di sapu tangan Keisha.

“Seharusnya, biarkan saja Kei”, bisik Gio.

Keisha hanya menatap Gio tak mengerti. Gio adalah salah satu teman sekelas Keisha. Dulu pernah berada satu kelompok belajarnya. Anak itu sangat nakal, suka mengganggu termasuk mengganggu Keisha padahal sebelumnya dia dikenal sebagai anak yang baik. Sering Keisha melihat jari-jarinya luka, namun Gio menjawab hanya terkena benang layang-layang yang dia beri pecahan kaca agar bisa menang saat adu layangan. Saat itu Keisha tak mengerti mengapa Gio dan anak laki-laki lainnya bermain sesuatu yang berbahaya seperti itu. Kadang-Kadang Juned, Ferry atau Joe memang melakukan hal yang sama namun pecahan beling itu tak pernah sampai melukai jemari mereka.

“Gio, kamu bohong waktu kamu bilang jemarimu luka karena benang layang-layang kan?. Ternyata kamu melukai jemarimu sendiri, kenapa?”. Mata Keisha berkaca-kaca.

“Apakah ibumu nanti tak khawatir?”, Tanya Keisha.

“Ayah dan ibuku tak pernah peduli denganku Kei, mereka hanya sibuk bertengkar, kakak-kakakku lebih suka main dengan anak-anak sebaya mereka. Atau bahkan pergi dari rumah.”

“Mengapa mereka tak peduli? Kamu kan anak mereka?”. Keisha berusaha merawat luka Gio 
sebisanya dengan membalut jemari kirinya. Hampir semua kulit di kelima jarinya tergores pisau silet.

“Aku melakukannya tiap hari, Kei”.

“Melakukan apa?”, Tanya Keisha.

“Setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, bila ayah dan ibuku bertengkar, aku akan menggoreskan satu pisau silet di salah satu jemari. Goresan lainnya, bila kakakku menyakitiku dan mengejekku”.
Keisha tercengang.

Tuhan, memiliki kedua orang tua yang lengkap, dan saudara-saudara yang banyak ternyata tidak selamanya membahagiakan. Barangkali Gio mengalami kesepian yang sama seperti yang kualami. Tapi Gio lain. Ayah dan ibu mereka ada tapi seperti tidak ada. Apakah mereka ingat ada Gio diantara mereka? Mengapa mereka harus bertengkar dan mengabaikan yang lainnya?. Pertanyaan-pertanyaan yang tak mampu Keisha jawab apalagi Gio. Dia tak pernah mengerti, jangan-jangan mereka Gio dan kakak-kakaknya tak pernah diharapkan ada. Bagi kakaknya Gio adalah pelampiasan kekesalannya akan kondisi tidak nyaman di rumah, walau tanpa mereka sadari Gio juga butuh perhatian seperti mereka. Gio pasti lebih sedih daripada aku yang memang tak berayah dan beribu.

“Kumohon jangan lakukan lagi, Gio. Jangan pernah menyakiti dirimu sendiri”. Keisha berkata setengah memohon. Jemarinya bertaut menggenggam tangan Gio yang luka.

Gio berjanji tidak akan melakukannya lagi, siang itu. Namun di hari berikutnya, Keisha kembali menemukan Gio melakukan hal yang sama. Hingga sepulang sekolah, Keisha mengikuti Gio kemana dia pergi, memastikan dia pulang tak lagi menyakiti dirinya. Pernah dengan kasar Keisha merebut tasnya, sementara Gio terdiam membisu. Keisha merampas semua pisau silet dalam tas Gio dan menukarnya dengan rautan untuk menajamkan pensil.

“Kenapa kamu mau memperhatikan dan menemaniku, Kei? Bukankah setiap siang kamu sering bersama Novem, Juned, Joe dan Ferry bermain dan belajar bersama?”.

“Kamu..tahu?”, Tanya Keisha.

Gio tertawa lalu berkata, “Aku tahu dan aku iri dengan mereka. Teman-temanku hanya menyakitiku tapi mereka begitu menyayangimu”.

“Aku akan menjadi temanmu, asal kamu berjanji tidak akan menyakiti diri sendiri”.

Sejak saat itu Keisha makin dekat dengan Gio. Saat jam istirahat Keisha selalu menyempatkan diri menemui Gio di halaman belakang sekolah. Mereka berbagi bekal makan siang dan bercerita. Buat Keisha yang terpenting adalah memeriksa tas Gio, jangan sampai ada pisau silet atau benda tajam di dalam tasnya. Gio pun tak lagi suka mengganggu di kelas. 

Suatu siang, ketika mereka hanya berdua saja di halaman belakang sekolah, Gio menyodorkan sebuah sapu tangan berbunga dengan sedikit noda darah yang telah memudar.

“Aku ingin mengembalikan sapu tangan ini kepadamu, tapi maaf aku tak bisa menghapus semua noda darahnya. Susah sekali hilangnya padahal aku sudah mencuci dan merendamnya berkali-kali”, keluh Gio sambil menunjukkan sapu tangan itu pada Keisha. Tapi sebelum Keisha menjawab, Gio sudah berkata lagi.

“Tapi kalau boleh, aku ingin menyimpannya”, pinta Gio.

“Untuk apa?”, Tanya Keisha keheranan.

“Agar aku selalu ingat bahwa masih ada orang baik di dunia ini”. Keisha dan Gio saling bertatap mata.

“Aku akan selalu menjadi sahabatmu, Gio. Mungkin tak akan pernah bisa menggantikan posisi ayah, ibu dan kakak-kakakmu. Tapi percayalah, aku akan berusaha menjadi teman yang baik. Dan kamu boleh menyimpan sapu tangan jelek itu”. Mereka berdua tersenyum.

Pagi itu Novem yang sengaja datang lebih awal, melihat Keisha duduk sebangku dengan Gio, mengajari anak laki-laki yang terkenal nakal itu pelajaran sekolah.

Perlahan Novem mendekati mereka.

“Sudah selesai pe-ermu, Kei?”, Tanya Novem yang tiba-tiba telah berada di dekat Keisha dan Gio.
Keisha agak terkejut menoleh, melihat Novem berdiri sambil melipat kedua lengannya di dada.

“Pe-erku sudah, tapi Gio sepertinya masih ada kesulitan, karena itu aku mengajarinya”, jelas Keisha.

“Asal jangan kamu kasih contekan begitu saja, biarkan dia berpikir sendiri”. Kalimat Novem memang terdengar pelan, tapi membuat Gio segera berdiri menghadap Novem.

“Aku mengerjakannya sendiri!”, seru Gio marah. Keisha kebingungan berdiri diantara mereka.

“Aku sudah selesai, Kei! Terima kasih, kamu bisa pergi ke tempat dudukmu sekarang”. Gio berkata ketus.

Sepeninggal Gio, Novem berkata pada Keisha,

“Kei, bisa bicara sebentar?”

“Kenapa akhir-akhir ini kamu tak pernah datang lagi ke markas kita?”, tanya Novem.

“Aku lihat setiap siang, kamu juga selalu berdua bersama Gio sepulang sekolah, sibuk sekali ya?”.

“Memangnya tidak boleh ?”, tanya Keisha.

“Boleh saja”, kata Novem”, tapi kita kan telah berjanji akan selalu berkumpul setiap siang di rumahku. Sudah sebulan ini kamu tak mengisi Big Book”. Novem menatap Keisha lama.

“Maaf, Novem. Aku tidak bermaksud mengabaikan kelompok kita, tapi ada yang harus kulakukan bersama Gio”. 

“Apa yang kamu lakukan bersamanya setiap siang?”, tanya Novem. Keisha melirik Big Book di meja Novem.

“Boleh kubawa buku itu? Akan aku ceritakan di buku itu. Sesungguhnya tidak ada yang kurahasiakan tentang apa yang kulakukan bersama Gio setiap siang, dan aku ingin kelompok kita tahu”.

Novem memberikan buku itu pada Keisha, masih ada waktu setengah jam sebelum pelajaran pertama dimulai. Keisha segera menuliskan apa yang dialaminya bersama Gio.

Menjelang jam pelajaran berakhir, Keisha menyerahkan buku itu pada Novem dan sambil menatap mata teman-temannya satu persatu, Novem, Juned, Joe dan Ferry, Keisha berkata, 

“Maaf, siang ini aku tak bisa hadir lagi di pertemuan kelompok kita. Ada yang harus kulakukan. Dan apa yang kulakukan sudah kutulis di buku itu”. 

Begitu bel pulang sekolah berdering, Keisha segera meninggalkan ruang kelas. Anak-anak yang lain berhamburan keluar kecuali Novem, Juned, Ferry dan Joe yang duduk bergerombol membaca jurnal mereka. Cerita yang baru saja di tulis oleh Keisha.

Kejahatan hanya bisa dibaikkan dengan kebaikan
Teman-teman, nenekku selalu berkata padaku bahwa kejahatan dan keburukan hanya bisa dibaikkan dengan kebaikan. Dan menolong orang yang membutuhkan adalah salah satu perbuatan baik. Maka ketika aku melihat seorang teman yang membutuhkan bantuan, apakah aku harus tinggal diam?

Seorang anak laki-laki, teman dekat kita setiap hari , telah menyakiti dirinya sendiri untuk mengobati sakit di hatinya. Bagaimana mungkin luka akan sembuh bila setiap hari luka itu diperbarui?
Pernahkah kalian merasakan memiliki orang tua tapi merasa seperti tak punya? Bahkan aku yang tak memiliki ayah dan ibu bisa lebih bahagia dari dia karena nenek dan kakakku sangat menyayangiku.

Maka yang kulakukan hanyalah menemaninya, mengajaknya bicara, agar dia tahu, masih ada orang yang memperhatikannya.

Setiap hari aku berusaha meyakinkan, tidak ada lagi alat dalam tasnya untuk menyakiti dirinya, setiap hari aku ingin bicara dengannya agar dia tahu dia tak sendiri dan setiap hari aku membawakannya makanan walau hanya sepotong roti dan air putih, karena lapar kerap membuat orang menjadi suka marah. 

Tidakkah kalian ingat kisahku ketika disakiti oleh anak-anak perempuan itu? Kalian, Novem, Juned, Ferry dan Joe datang membantuku menjauhkanku dari mereka. Aku berterima kasih, kalian menerimaku apa adanya.

Sekarang aku ingin membalas kebaikan kalian dengan melakukan kebaikan kepada orang lain yang membutuhkan. Aku tak bermaksud meninggalkan kalian, aku akan kembali ketika saatnya aku kembali.

Anak laki-laki yang membutuhkanku itu adalah Gio, yang setiap siang menggoreskan satu luka dengan pisau silet setiap kali ayah ibunya bertengkar di rumah, atau justru ketika kakak-kakak yang diharapkannya bisa menyayanginya justru menjadikan pelampiasan. Mereka sakit, mereka terluka, tapi yang bisa kulakukan hanya menyembuhkan salah satu dari mereka.
Hanya ini yang bisa kuceritakan, dan seperti kataku tadi, aku akan kembali ketika saatnya kembali.
# Kei.

Novem, Juned, Ferry dan Joe saling berpandangan. 

Seminggu dua minggu kemudian, Keisha tak pernah lagi datang. Hingga di suatu siang yang terik, ketika Novem, Juned, Joe dan Ferry sedang berkumpul di gazebo, tiba-tiba terdengar suara ceria itu berseru dari balik pagar kayu, seorang gadis kecil dengan rambut kepang dua, celana pendek selutut dan kaos bergambar mickey mouse berdiri di sana. Tak lupa, tas ransel coklat itu di punggungnya.

“Haaiiii…aku dataaanggg…”. Keisha tertawa-tawa sambil membawa sekantung buah mangga yang ia petik dari kebun di rumahnya. Segera Novem, Juned, Fery dan Joe menyambutnya dengan penuh suka cita. 

Selamat datang kembali Keisha, walau usahamu menemani Gio tak berhasil dan anak itu kembali menjadi nakal dan menyakiti orang lain bahkan dirinya sendiri, setidaknya Keisha telah mencoba melakukan yang terbaik.

Aku hanya ingin meninggalkan jejak kebaikan. Mungkin dia akan mengingatku tapi mungkin juga tidak. Tapi aku belajar sesuatu dari pengalaman pahit itu. Bersyukur Tuhan telah mempertemukan orang-orang terbaik dalam hidupku dan aku berjanji tak akan menyia-nyiakan mereka. Semoga Gio masih mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan orang baik lainnya,namun bila tidak, Tuhan, tolong jaga dan kuatkan dia.

#Day16, Dilema ibu pekerja

Jam sudah menunjukkan pukul 6.30 pagi, saya sudah akan bersiap-siap berangkat bekerja, demikian juga suami dan anak pun sudah siap berangkat sekolah. Saya mengantarnya setiap pagi lalu lanjut perjalanan ke tempat kerja yang kebetulan hanya 10 menit naik motor dari sekolah anak. Tiba-tiba ada telepon masuk, dari pengasuh anak saya.

“Assalamu’alaikum, Bu,” sapa suara dari seberang.

“Wa’alaikumsalam,” jawab saya.

“Maaf saya hari ini tidak bisa datang karena ada keperluan keluarga”.

Saya terdiam sejenak, lalu menjawab,”Baiklah kalau begitu, tidak apa-apa. Tapi besok bisa datang ?”
“Bisa, Bu”, jawabnya.

Klik, telepon pun ditutup. Melihat wajah saya suami sudah menduga pasti pengasuh tidak bisa datang.

“Kalau begitu kamu bolos kerja ?”.

“Sebentar aku pikir dulu,”kataku.

“Aku ke kampus agak siang, mungkin bisa kubawa Awan ke kampus tapi mungkin pulang malam karena ada jam kuliah malam”, kata suami.

“Oke, begini saja, nanti Awan sepulang sekolah ikut ke kampus, lalu aku pulang kerja menjemputnya, sampai kampus sekitar jam 18.30, kuliah malam mulai jam 18.00 kan?. Awan bisa tunggu di kantor dosen, ada penjaga kan?”. Kebetulan penjaga fakultas sudah mengenal anak saya yang sering diajak ke kampus oleh ayahnya.

Maka pagi itu kami membuat kesepakatan membagi waktu mengasuh anak karena kami sama-sama bekerja. Tidak mudah, karena jadwal kerja yang berlainan. Beruntunglah suami adalah dosen yang jam mengajarnya agak longgar terutama menjelang ujian akhir semester seperti ini. Bisa dibayangkan betapa riwehnya saat kami berdua memiliki jadwal yang sangat padat. Tak jarang saya harus bolos kerja bila pengasuh anak sedang sakit atau anak saya yang sakit.

Suami sering mengalah agar saya tetap dapat masuk kerja karena konseksuensi dari bolos kerja di sebuah perusahaan swasta asing adalah potong gaji dan bila terlalu sering dianggap tidak profesional. Lagi pula membawa anak ke kampus masih dimaklumi karena beberapa dosen wanita juga kerap mengajak anak-anaknya. Mereka dapat bermain di halaman fakultas atau duduk manis sambil main gadget sementara ibu mereka mengajar. Bila yang diajak lebih dari satu anak, mereka dapat bermain bersama dan saling mengenal. Lainnya hal dengan bekerja kantoran seperti saya.

Suami sudah sering meminta saya untuk resign dan fokus mengurus rumah dan anak. Lagi pula dengan kegemaran saya menulis, saya masih bisa menghasilkan dengan menjadi web content writer atau bahkan menulis buku lalu diterbitkan. 

Saya hanya bisa mengingatkan akan tanggungan yang masih harus dilunasi, saat bapak dan ibu mertua sakit parah dan akhirnya meninggal dunia dengan meninggalkan hutang pengobatan yang cukup banyak. Bahkan kami tak sempat menabung. Setidaknya bila nanti tanggungan selesai, saya hanya tinggal berpikir mencari tambahan penghasilan untuk tabungan, bukan untuk menambal kekurangan biaya hidup.

Rejeki memang sudah ada yang mengatur, namun bila kita tidak berikhtiar, darimana kita akan mendapatkan semua yang kita butuhkan ?

Bekerja memang bukan kewajiban bagi seorang istri yang suaminya sebenarnya sudah memiliki pekerjaan yang cukup menghasilkan. Namun bukan berarti seorang istri tidak boleh bekerja di luar rumah.

Saya katakan, andaipun saya kelak nanti di rumah saja sebagai ibu rumah tangga dan memiliki usaha sendiri sambil mengasuh anak, bukankah itu sama saja dengan bekerja seperti yang saat ini tengah saya lakukan ?

Sebagai pekerja kantor, saya memiliki gaji dan jam kerja yang tetap yaitu mulai jam 7 pagi hingga jam 5 sore. Sedangkan bila saya memiliki usaha rumahan, jangan-jangan saya harus bekerja lebih lama menjawabi pertanyaan pelanggan dan melayani mereka hingga malam. 

Sampai saat ini suami masih berselisih paham tentang saya yang masih harus bekerja. Namun saya berhasil meyakinkan bahwa dengan managemen yang tepat saya masih bisa mengaturnya. Selepas jam kerja tentu seluruh waktu saya berikan untuk keluarga, kalaupun ada pekerjaan kantor yang harus saya kerjakan, bisa saya kerjakan malam hari saat anak dan suami sudah tidur atau pagi hari sebelum subuh. 

Untuk mengatasi dilema ini agar tak berkepanjangan maka saya dan suami membuat kesepakatan, bahwa saya akan berhenti bekerja setelah tanggungan lunas dan target hidup lainnya terpenuhi. 
Well, saya pun menyetujuinya. Saya pun membuktikan bahwa selain sebagai pekerja saya juga ibu rumah tangga yang tetap memperhatikan keluarga. 

Tuesday, April 25, 2017

#Day15, 7 Mindset Entrepreneur yang harus Anda miliki.

Entrepeneur atau wirausahawan adalah seseorang yang memiliki aktifitas wirausaha.

Seorang entrepreneur memiliki ciri yaitu pandai dan berbakat mengenali produk baru, dapat menentukan cara produksi baru, menyusun manejemen operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkan serta ,mengatur permodalan operasinya.

Tak jarang orang memilih menjadi wirausahawan karena pelarian dari pekerjaan yang dimiliki sebelumnya membosankan atau bahkan kebetulan saja ingin mencoba hal baru. Padahal seharusnya menjadi wirausahawan adalah pilihan jalan hidup sehingga mindset atau pola pikir yang Anda miliki akan tepat mengarahkan kemana usaha Anda akan berjalan.

Kesalahan pola pikir akan mengakibatkan kesalahan dalam pengambilan tindakan, sedangkan pengusaha dengan pola pikir yang tepat akan menjadikan bisnisnya hebat dan berkembang pesat.

Untuk menjadi seorang entrepreneur, Anda harus memiliki skill dan mindset yang baik. Jadi sebelum terjun menjadi seorang wirausahawan, Anda harus memiliki ilmunya dahulu agar tidak terlalu besar kegagalan yang akan Anda alami. Sambil belajar Anda dapat memiliki usaha kecil yang Anda kerjakan sesuai potensi Anda.

Kebanyakan para wirausahawan yang sukses berangkat dari usaha yang tidak jauh dari kegemaran atau hobi, misalnya dari hobi otak-atik otomotif dapat menjadi pengusaha bengkel atau jasa service kendaraan. Bagi yang hobi menanam bunga dapat sekaligus berbisnis usaha florist atau membuat karangan bunga. Yang gemar masakan dapat membuat usaha rumah makan dan lain-lain.

Selain memiliki keahlian dan skills di bidang tertentu , seorang wirausahawan harus memiliki 7 mindset berikut ini dalam menjalankan usahanya, yaitu :

1. Action oriented
Wirausahawan yang memiliki mindset action oriented akan melakukan perencanaan dengan sebaik-baiknya lalu segera menjalankannya, tidak senang menunda dan peka terhadap peluang yang ada.

2. Berpikir simple
Seorang wirausahawan akan melihat permasalahan yang ada dengan jernih dan menyelesaikannya secara bertahap. Caranya, menjadikan yang susah menjadi mudah namun bukan meremehkan, sebaliknya menghindari membuat susah sesuatu yang sebenarnya mudah.

3. Mengejar peluang dan disiplin
Peluang tidak akan muncul untuk kedua kalinya,karena itu saat peluang tiba, segeralah mengejar peluang tersebut dengan disiplin tinggi, kerja keras, cerdas, tuntas dan ikhlas.

4. Senang belajar
Meski sudah menjadi boss, seorang wirausahawan harus senang belajar, menyediakan waktu, dana dan tenaga untuk mendapatkan ilmu. Jangan ragu meski harus belajar pada orang yang lebih muda apalagi bila dia ternyata lebih sukses daripada Anda. Kapanpun dan dimanapun, tetaplah semangat belajar.

5. Mampu mengambil peluang yang terbaik
Meski banyak peluang yang ada, namun jeli lah dalam mengambil keputusan dan peluang yang terbaik.

6. Fokus pada pelaksanaan atau action, bukan hanya pandai membuat perencanaan namun juga handal dalam bekerja, tidak hanya pandai berteori namun juga paham aplikasinya.

7. Pemimpin yang hebat mampu mengatur, memimpin, memotivasi, membangun network atau jaringan serta dapat berkomunikasi dengan baik dengan berbagai kalangan.

Nah, masih ingin menjadi entreprenur atau wirausahawan ? Semoga sukses yaa..